“Perlu diketahui, KSPSI berdiri sejak 1973. Organisasi ini memiliki tujuan utama membela kepentingan pekerja dan buruh, memperjuangkan hak, keadilan, serta kemakmuran demi kesejahteraan mereka. Bukan menjadikan perjuangan pekerja dan buruh sebagai alat untuk memperoleh jabatan di pemerintahan maupun posisi komisaris,” jelasnya.

Jusuf Rizal juga menegaskan konsistensinya selama kurang lebih 15 tahun dalam mengawal program Bina-Lindung-Sejahtera yang, menurutnya, telah dirumuskan sejak awal bersama sejumlah tokoh serikat pekerja dan buruh.

Ia menyatakan tetap mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, tetapi tidak menghilangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap kebijakan yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan pekerja dan buruh.

Baginya, independensi organisasi menjadi hal penting agar perjuangan serikat pekerja tidak terpengaruh oleh kepentingan jabatan maupun iming-iming kekuasaan.

“Berada di luar sistem, tetapi tetap membela kepentingan pekerja dan buruh serta bersama rakyat, bagi saya jauh lebih baik daripada berada di dalam kekuasaan, tetapi justru zalim terhadap pekerja dan buruh. Saya meyakini setiap pemimpin nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan,” ujarnya.

Terkait kemungkinan Yorrys Raweyai kembali maju dalam kontestasi Ketua Umum KSPSI, Jusuf Rizal mengaku tidak mempermasalahkannya. Menurutnya, demokrasi memberikan ruang kepada setiap anggota yang memiliki hak untuk mencalonkan diri dan berkompetisi secara terbuka.

Ia menilai, kongres mendatang harus menjadi ruang pertarungan gagasan, konsep, dan visi untuk menentukan arah organisasi ke depan. Kualitas seorang calon pemimpin, menurutnya, tidak semestinya hanya diukur dari kedekatan atau hubungan personal dengan pejabat pemerintah.

“Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap anggota yang memiliki hak untuk maju menjadi calon Ketua Umum. Karena itu, adu gagasan dan konsep harus menjadi bagian penting dalam menentukan masa depan KSPSI. Bukan sekadar karena kedekatan dengan pejabat pemerintah kemudian dianggap memiliki kualitas kepemimpinan,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari persiapannya, aktivis yang dikenal sebagai penggiat antikorupsi tersebut mengaku telah menyiapkan sekretariat organisasi di kawasan Tebet, Jakarta, apabila nantinya terpilih menjadi Ketua Umum KSPSI.

Ia menilai, keberadaan sekretariat permanen penting untuk menjaga stabilitas administrasi, eksistensi, dan citra organisasi. Menurutnya, organisasi besar seperti KSPSI membutuhkan pusat kegiatan yang jelas dan berkelanjutan, bukan berpindah-pindah tempat karena ketergantungan pada sistem sewa.

Selain itu, sejumlah konsep pengelolaan organisasi modern juga telah disiapkannya untuk memperkuat kelembagaan KSPSI. Salah satu perhatian utamanya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pekerja dan buruh agar mampu menghadapi perkembangan teknologi, perubahan pola industri, serta tantangan revolusi industri.

Jusuf Rizal menilai, peningkatan kompetensi pekerja dan buruh menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin dinamis.

Menurutnya, KSPSI harus mengambil peran lebih besar dalam mempersiapkan pekerja dan buruh agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman, sekaligus mampu berkontribusi dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

“Ke depan, kualitas SDM pekerja dan buruh harus terus ditingkatkan. Mereka perlu dipersiapkan agar mampu mengikuti perubahan teknologi dan revolusi industri, sehingga tidak tergilas oleh perkembangan zaman. KSPSI harus hadir untuk memastikan pekerja dan buruh memiliki kemampuan, perlindungan, serta kesejahteraan yang lebih baik,” pungkas Jusuf Rizal.