Strategi membeli Bitcoin sekaligus atau mencicil pembelian setiap bulan menunjukkan hasil yang berbeda dalam pengujian berdasarkan data historis.

Investor yang menanamkan seluruh modal di awal tercatat mampu mengumpulkan lebih banyak Bitcoin dalam sebagian besar periode yang diuji.

Laporan yang dikutip TokenPost pada 15 Oktober 2026 menyebutkan, simulasi investasi senilai US$12.000 melalui pembelian sekaligus menghasilkan jumlah Bitcoin lebih besar dibandingkan strategi pembelian bulanan selama 12 bulan dalam sekitar 68 persen periode historis yang dianalisis.

Dalam pengujian tersebut, keunggulan median strategi pembelian sekaligus diperkirakan mencapai 24–30 persen. Namun, hasilnya tidak selalu menguntungkan. Pada lima persen periode dengan kinerja terburuk, strategi ini dapat menghasilkan jumlah Bitcoin 44 persen lebih sedikit dibandingkan pembelian secara bertahap.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa waktu masuk ke pasar menjadi faktor penting dalam menentukan hasil investasi aset kripto. Pembelian sekaligus memberikan eksposur langsung terhadap pergerakan harga, sehingga berpotensi menguntungkan ketika pasar bergerak naik. Sebaliknya, strategi tersebut juga menghadirkan risiko lebih besar apabila harga mengalami penurunan setelah pembelian dilakukan.

Sementara itu, metode pembelian berkala atau dollar-cost averaging (DCA) memungkinkan investor membagi modal ke dalam sejumlah pembelian pada waktu berbeda. Pendekatan ini dapat mengurangi risiko ketergantungan pada satu titik harga pembelian, meskipun tidak menjamin keuntungan lebih tinggi.

Perlu diperhatikan, simulasi tersebut menggunakan data masa lalu dan tidak memasukkan biaya transaksi maupun pajak. Karena itu, hasilnya tidak dapat dijadikan jaminan atas kinerja Bitcoin di masa mendatang.

Bagi investor, pilihan antara membeli Bitcoin sekaligus atau bertahap perlu mempertimbangkan toleransi risiko, jangka waktu investasi, kondisi keuangan, dan kemampuan menghadapi volatilitas pasar kripto.