Pekan Antariksa Dunia atau World Space Week 2026 kembali digelar secara global pada 4–10 Oktober 2026. Tahun ini, perayaan tersebut mengangkat tema “Rocket Revolution” atau Revolusi Roket, yang menyoroti perkembangan teknologi peluncuran dan semakin terbukanya akses menuju ruang angkasa.
Tema tersebut menggambarkan perubahan besar dalam industri antariksa. Perkembangan roket yang dapat digunakan kembali atau reusable rocket, hadirnya kendaraan peluncur generasi baru, serta meningkatnya keterlibatan perusahaan swasta membuat aktivitas menuju orbit tidak lagi sepenuhnya bergantung pada model peluncuran konvensional.
Salah satu perubahan penting adalah teknologi roket yang dapat digunakan kembali. Jika sebelumnya kendaraan peluncur umumnya digunakan dalam satu misi, teknologi baru memungkinkan bagian tertentu dari roket kembali ke Bumi untuk digunakan pada penerbangan berikutnya.
Kemampuan tersebut berpotensi menekan biaya peluncuran sekaligus meningkatkan frekuensi misi antariksa. Kondisi ini kemudian membuka kesempatan lebih luas bagi perusahaan, lembaga penelitian, maupun berbagai negara untuk menempatkan satelit dan wahana ke orbit.
Perkembangan industri antariksa juga semakin berkaitan dengan kebutuhan manusia di Bumi. Teknologi satelit saat ini mendukung berbagai sektor, mulai dari komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, pengamatan permukaan Bumi, konektivitas hingga kebutuhan mitigasi bencana.
Perhatian terhadap teknologi roket juga terlihat dalam perkembangan Starship milik SpaceX. Pada uji penerbangan 28 September 2026, Starship berhasil mencapai orbit dan membawa 26 satelit Starlink V3 sebelum misi tersebut berakhir lebih awal akibat persoalan pada mesin.
Capaian tersebut tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem peluncuran berukuran besar yang dirancang untuk dapat digunakan kembali. Teknologi seperti ini dinilai menjadi salah satu bagian dari perubahan besar dalam industri peluncuran antariksa.
Memperingati Tonggak Sejarah Antariksa
World Space Week memiliki hubungan dengan dua momentum penting dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa.
Tanggal 4 Oktober berkaitan dengan peluncuran Sputnik 1 pada 1957, yang dikenal sebagai satelit buatan manusia pertama yang mengorbit Bumi. Sementara 10 Oktober berkaitan dengan Outer Space Treaty atau Perjanjian Luar Angkasa yang ditandatangani pada 1967 sebagai salah satu dasar hukum internasional mengenai pemanfaatan ruang angkasa secara damai.
Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian menetapkan World Space Week sebagai perayaan tahunan pada 1999. Sejak itu, momentum tersebut berkembang menjadi kegiatan global yang melibatkan lembaga antariksa, perusahaan kedirgantaraan, sekolah, museum, komunitas astronomi dan masyarakat umum.
Tak Sekadar Perayaan Teknologi
World Space Week 2026 juga diarahkan untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa. Kegiatannya dapat berupa seminar, pameran, program sekolah, pengamatan astronomi hingga berbagai proyek STEM.
Program edukasi turut dikembangkan melalui Rocket Revolution Toolkit, yang ditujukan untuk membantu siswa, keluarga dan komunitas memahami prinsip ilmu pengetahuan serta teknik di balik teknologi roket.
Dengan demikian, revolusi roket bukan hanya mengenai kemampuan membawa kendaraan menuju orbit. Perubahan teknologi peluncuran juga berpotensi memperluas ekosistem antariksa dan meningkatkan pemanfaatan satelit yang manfaatnya dapat dirasakan langsung di Bumi.
World Space Week 2026 menjadi momentum untuk melihat bahwa perkembangan antariksa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari layanan komunikasi dan navigasi hingga informasi cuaca serta pengamatan lingkungan, teknologi berbasis antariksa terus memainkan peran penting dalam kehidupan modern./Red.

