Tekanan eksternal turut memperkeruh sentimen. Data September 2026 menunjukkan indeks harga produsen Amerika Serikat (AS) naik 1,3% secara bulanan, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,5%.

Secara tahunan, kenaikannya mencapai 6,3%, memperbesar perhatian terhadap prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Pasar juga mencermati perkembangan tenaga kerja AS, agenda pertemuan IMF dan Bank Dunia, serta risiko geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi dan preferensi investor terhadap aset berisiko.

Kombinasi faktor tersebut dapat memengaruhi arus modal global, nilai tukar rupiah, dan daya tarik saham Indonesia.

Kejatuhan IHSG ini menjadi ujian bagi kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional. Dalam jangka pendek, volatilitas berpotensi tetap tinggi selama ketidakpastian terkait MSCI dan kondisi global belum mereda.

Pemulihan sentimen akan bergantung pada perkembangan kebijakan, respons otoritas, serta upaya memperkuat transparansi dan tata kelola pasar.

Bagi investor, pergerakan selanjutnya perlu dicermati dengan disiplin, terutama melalui likuiditas perdagangan, fundamental emiten, dan perkembangan makroekonomi.

Koreksi tajam menjadi pengingat bahwa pengelolaan risiko tetap penting di tengah pasar yang bergerak ekstrem.