Laporan tersebut tidak mengumbar siapa pihak yang melakukan serangan, perusahaan apa yang menjadi korban peretasan, dan apa merek sikat gigi pintar yang digunakan untuk melakukan hack. Tidak diketahui juga apa motif di balik serangan DDoS tersebut. Namun, umumnya serangan DDoS dilakukan peretas untuk memeras uang korban. Dilaporkan, sikat gigi pintar tersebut rentan terhadap peretasan karena sistem operasinya (OS) yang berbasis Java. Java diketahui memang memiliki sejumlah kerentanan yang bisa disalahgunakan kriminal siber, misalnya untuk injeksi kode berbahaya.
Perangkat IoT bisa disalahgunakan
Insiden ini menunjukkan bahwa komputer dan produk internet of things (IoT) yang terkoneksi dengan internet, misalnya sikat gigi elektrik dan monitor/CCTV bayi, bisa disalahgunakan.
Dalam sebuah eksperimen, Stefan Zuger dari Fortinet cabang Swiss menghubungkan komputer yang tidak dilindungi anti-virus dengan internet. Komputer ini pun disusupi malware dalam waktu 20 menit, sehingga menggambarkan kecepatan ancaman siber.
Zuger pun membagikan sejumlah tips agar pengguna bisa melindungi perangkatnya dari peretasan DDoS. Zuger merekomendasikan pengguna selalu memperbarui software semua perangkat IoT dengan patch keamanan otomatis. Selain itu, pengguna juga bisa memanfaatkan software anti-virus untuk mendeteksi lonjakan penggunaan daya dan data yang tidak biasa. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah infeksi malware, sebagaimana dikutip KompasTekno dari GizmoChina.
Sumber: kompas.com
(Red)

