Kebijakan tersebut ditujukan agar pertumbuhan investasi tetap berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih.

ā€œPengembangan investasi harus berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Karena itu, penggunaan SWRO menjadi langkah penting agar kebutuhan air operasional data center dapat dipenuhi secara mandiri, sementara pasokan air publik tetap mengutamakan kebutuhan warga,ā€ demikian penegasan kebijakan BP Batam berdasarkan keterangan Ariastuty.

BP Batam Siapkan Solusi Jangka Panjang

Selain penanganan darurat, BP Batam menyiapkan revitalisasi jaringan pipa, penerapan sistem pemantauan berbasis SCADA untuk mendeteksi kebocoran, serta penjajakan kerja sama dengan pemerintah dan swasta guna mengembangkan sumber air alternatif, termasuk dari Lingga dan Bintan.

Pembangunan waduk baru juga menjadi salah satu rencana jangka panjang yang diperkirakan membutuhkan waktu lima hingga tujuh tahun hingga dapat dimanfaatkan.

Ariastuty menegaskan bahwa penguatan ketahanan air membutuhkan berbagai langkah terpadu, mulai dari optimalisasi sumber air baku hingga pembangunan infrastruktur baru.

ā€œSeluruh opsi perlu dijalankan secara terpadu agar Batam tidak hanya mengatasi kebutuhan air saat ini, tetapi juga membangun ketahanan pasokan air yang berkelanjutan,ā€ pungkasnya.