Pemerintah Amerika Serikat berencana menyiarkan secara langsung pelaksanaan hukuman mati terhadap Nidal Malik Hasan, mantan psikiater Angkatan Darat AS yang dinyatakan bersalah atas penembakan mematikan di pangkalan militer Fort Hood, Texas, pada 2009.

Rencana tersebut disampaikan pihak Pentagon pada Kamis (8/10/2026), setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa pelaksanaan hukuman mati terhadap Hasan akan dibuka kepada publik.

Menurut laporan Associated Press dan Reuters, eksekusi dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 3 Desember 2026, pukul 13.00 waktu setempat di Fort Hood, Texas. Hasan akan menghadapi regu tembak sebagai metode pelaksanaan hukuman mati. Namun, rincian teknis mengenai siaran langsung tersebut belum diumumkan secara lengkap.

Eksekusi Terbuka Jadi Sorotan

Pernyataan mengenai rencana penayangan eksekusi itu memunculkan perhatian terhadap kebijakan hukuman mati di Amerika Serikat, terutama menyangkut keterbukaan proses hukum, martabat terpidana, dan batas antara transparansi pemerintah dengan pertunjukan kekerasan di ruang publik.

Hegseth sebelumnya mengatakan masyarakat akan diberi kesempatan untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman tersebut. Ia beralasan bahwa tindakan itu dimaksudkan untuk memperlihatkan konsekuensi serius dari kejahatan yang dilakukan Hasan.

Meski demikian, rencana menyiarkan eksekusi melalui siaran langsung juga menimbulkan pertanyaan hukum dan etika. Sejumlah pakar hukum yang dikutip media Amerika Serikat menyoroti persoalan privasi, martabat manusia, serta tujuan pemerintah menampilkan pelaksanaan hukuman mati kepada masyarakat luas.

Kasus Penembakan Fort Hood pada 2009

Kasus yang menjerat Hasan bermula pada 5 November 2009. Saat itu, ia melepaskan tembakan di pusat pemrosesan kesiapan prajurit di pangkalan militer Fort Hood, Texas.