Seusai dilantik dan mengucapkan sumpah jabatannya menjadi Presiden Amerika Serikat, pada Senin (20/1), Donald Trump memperingatkan negara-negara anggota BRICS.
Hal ini ia sampaikan pada Kamis (30/01), Presiden Donal Trump memberikan peringatan agar tidak mengganti dolar AS sebagai mata uang cadangan dengan mengulangi ancaman tarif 100% yang telah dilontarkannya beberapa minggu setelah memenangkan pemilihan presiden pada bulan November.
“Kami akan meminta komitmen dari Negara-negara yang tampaknya bermusuhan ini bahwa mereka tidak akan membuat Mata Uang BRICS baru, atau mendukung Mata Uang lain untuk menggantikan Dolar AS yang perkasa atau, mereka akan menghadapi Tarif 100%,” kata Trump di Truth Social dalam sebuah pernyataan yang hampir identik dengan yang diunggahnya pada tanggal 30 November 2024 lalu.
Pada saat itu, Rusia mengatakan bahwa setiap upaya AS untuk memaksa negara-negara menggunakan dolar akan menjadi bumerang.
“Tidak ada peluang bahwa BRICS akan menggantikan Dolar AS dalam Perdagangan Internasional, atau di tempat lain, dan Negara mana pun yang mencoba harus mengucapkan halo kepada Tarif, dan selamat tinggal kepada Amerika!,” katanya, dikutip dari Reuters.
Sementara itu, menurut Peneliti Senior Pusat Riset Politik BRIN, Dewi Fortuna Anwar, dalam Liputan6 Update Spesial, yang ditulis pada Rabu (22/01), ia menyebut kalau Donal Trump betul-betul melakukan upaya de-dolarisasi, maka akan menerapkan tarif 100 persen.
“Tapi, risiko bahwa citra BRICS yang anti-AS ini perlu juga kita waspadai,” imbuhnya.
Kata Dewi, Indonesia perlu secara intensif meningkatkan hubungan dengan negara-negara Barat, terutama dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sebab, AS merupakan mitra penting Indonesia dalam perdagangan dan investasi. Jika AS menanggapi keanggotaan Indonesia dalam BRICS dengan kebijakan proteksionis seperti tarif tinggi, dampaknya bisa sangat merugikan perekonomian Indonesia. Sebab, pasar Amerika Serikat masih menjadi salah satu tujuan ekspor utama Indonesia.
“Jadi, jangan dibiarkan BRICS itu betul-betul menjadi kendaraan yang terlalu didominasi oleh RRT dan Rusia. Jadi komunikasi intensif dengan pihak Amerika Serikat dalam hal ini dengan pemerintahan Donald Trump itu penting. Sebab bagaimanapun pasar Amerika masih penting bagi Indonesia. Dan kalau kena tarif 100% saya kira berat juga bagi Indonesia,” tutupnya.

