Fasilitas tersebut dipersiapkan untuk menunjang kegiatan belajar sekaligus mendukung perkembangan siswa secara optimal. Kehadiran sekolah ini juga diharapkan memberikan kesempatan kepada anak-anak dari Rempang, Galang, Buluh, dan kawasan hinterland lainnya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

“Indonesia Emas harus diisi oleh anak-anak kita dari Rempang, Galang, Buluh, dan hinterland lainnya dengan pendidikan yang andal dan bermutu. Sekolah ini menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan dan diharapkan mendukung kemajuan kawasan Rempang dan Kota Batam,” kata Li Claudia.

Li Claudia menegaskan, pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih diarahkan bukan sekadar untuk menyediakan fasilitas pendidikan, tetapi juga mempersiapkan generasi muda yang memiliki kualitas serta daya saing.

Dukungan terhadap pembangunan sekolah juga disampaikan Ketua Yayasan Merah Putih Eddy Hussy. Ia mengapresiasi dukungan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra yang mendorong pelaku usaha untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan fasilitas pendidikan tersebut.

“Harapan kami, sekolah ini menjadi upaya mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh. Semoga inisiatif mulia ini mendapat dukungan dari semua pihak hingga selesai dan membawa manfaat besar bagi Batam ke depan,” ujar Eddy.

Ketua Tim Pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih Robinson Tan menambahkan, pembangunan sekolah tersebut diharapkan menjadi catatan penting bagi masa depan pendidikan di Kota Batam, khususnya bagi anak-anak di kawasan Rempang, Galang, dan sekitarnya.

“Ini merupakan satu catatan sejarah buat Kota Batam. Ini adalah sebuah amanah mulia bagi kami, untuk masa depan banyak anak-anak daerah yang akan mengisi pembangunan daerah ini ke depan,” ujar Robinson.

Dengan target penyelesaian pada akhir 2028, Sekolah Terintegrasi Merah Putih diharapkan menjadi salah satu sarana pendidikan yang membuka akses belajar lebih luas bagi masyarakat kawasan hinterland sekaligus mendukung penyiapan sumber daya manusia untuk masa depan Batam./Red.