“Setiap megawatt investasi baru harus datang bersama solusinya. Jangan sampai investasi datang lebih cepat daripada kesiapan listrik. Infrastruktur harus mendahului pertumbuhan, bukan tertinggal di belakangnya,” kata Fary.

Fary menyebut kebutuhan energi sektor data center diproyeksikan menjadi salah satu tantangan utama sistem kelistrikan Batam dalam beberapa tahun mendatang. Bahkan, 2029 diperkirakan menjadi titik penting, ketika kebutuhan listrik untuk data center diproyeksikan mencapai lebih dari separuh beban puncak listrik Batam.

Di sisi lain, PLN Batam memproyeksikan beban puncak listrik meningkat hampir tiga kali lipat, dari 841 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035. Untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan tersebut, daya mampu kelistrikan direncanakan meningkat hingga 3.691 MW.

Menurut Fary, pertumbuhan kebutuhan energi tersebut harus diikuti perubahan pendekatan dalam pengembangan investasi. Kebijakan energi di Batam, kata dia, perlu mampu memberikan manfaat secara bersamaan, yakni menyediakan listrik yang andal dan terjangkau bagi masyarakat, memberikan kepastian operasional bagi investor, serta menopang pertumbuhan ekonomi Batam secara berkelanjutan dan seimbang.

“Batam tidak cukup hanya menawarkan lahan dan insentif. Keunggulan baru kita adalah kepastian, kecepatan, dan kepercayaan. Energi Batam harus siap agar investasi tumbuh dan Batam menjadi pusat ekonomi digital regional,” ujar Fary./Red.