Perkumpulan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) meluncurkan program Satu Desa, Satu Wartawan atau One Village, One Journalist sebagai upaya memperkuat pengawasan pembangunan di tingkat desa.
Program tersebut menyasar desa-desa di seluruh Indonesia, termasuk wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) yang dinilai masih menghadapi keterbatasan akses informasi serta pengawasan pembangunan.
Ketua Umum PWMOI, KRH. HM. Jusuf Rizal, SH, mengatakan keberadaan wartawan atau reporter di setiap desa diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan pembangunan dan penggunaan anggaran desa.
Menurut Jusuf Rizal, lemahnya pengawasan dan terbatasnya akses informasi di sejumlah daerah dapat membuka ruang terjadinya penyalahgunaan kewenangan (abuse of power) serta praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
“Berdasarkan pengalaman, lemahnya akses informasi di desa, khususnya di daerah 3T, turut berkontribusi terjadinya KKN,” ujar Jusuf Rizal kepada media di Jakarta, Jum’at (10/09/2026).
Wartawan Desa Jadi Mata dan Telinga Masyarakat
Jusuf Rizal menjelaskan, persoalan pengawasan pembangunan desa menjadi penting karena pengelolaan anggaran berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Ketika pengawasan tidak berjalan maksimal, pembangunan infrastruktur, penyediaan fasilitas publik hingga program peningkatan kesejahteraan masyarakat berpotensi tidak berjalan sesuai dengan tujuan.
Karena itu, melalui program Satu Desa Satu Wartawan, PWMOI mendorong hadirnya wartawan atau reporter di setiap desa.
Wartawan desa tersebut diharapkan dapat menjalankan fungsi jurnalistik dengan memberikan informasi mengenai berbagai perkembangan di desa, termasuk pembangunan, pelayanan publik, aspirasi masyarakat serta persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah.
“Setiap desa akan memiliki wartawan atau reporter sebagai mata dan telinga dalam mengawasi pembangunan di desa,” tegas Jusuf Rizal.
Kehadiran wartawan di tingkat desa juga diharapkan mampu memperkuat transparansi dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Fokus pada Desa 3T
Program PWMOI tersebut juga memberikan perhatian terhadap wilayah 3T, yakni daerah tertinggal, terdepan dan terluar.
Wilayah 3T selama ini menghadapi tantangan berupa akses informasi, komunikasi dan keterjangkauan layanan yang tidak selalu sama dengan wilayah perkotaan.
Menurut Jusuf Rizal, perkembangan teknologi komunikasi dan revolusi industri harus dimanfaatkan untuk memperluas akses informasi sekaligus membantu pemerintah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik (clean and good governance).
Dengan keberadaan reporter di tingkat desa, informasi mengenai kondisi masyarakat di lapangan diharapkan dapat lebih cepat diketahui publik maupun pemangku kepentingan.

