Perjalanan manusia ke luar angkasa terus berkembang seiring kemajuan teknologi antariksa. Dalam momentum World Space Week yang berlangsung 4–10 Oktober, perhatian kembali tertuju pada negara-negara yang telah mengirimkan manusia ke luar angkasa.
Berdasarkan data yang dirangkum Al Jazeera, sedikitnya 746 orang dari 52 negara telah melakukan perjalanan ke luar angkasa jika menggunakan batas Karman Line sebagai acuan. Mereka terdiri dari astronaut profesional hingga wisatawan yang melakukan penerbangan komersial.
Amerika Serikat masih menjadi negara dengan jumlah warga yang paling banyak melakukan perjalanan ke luar angkasa. Tercatat 369 orang dari Amerika Serikat telah mencapai luar angkasa.
Sementara itu, Uni Soviet dan Rusia secara gabungan mencatat 138 orang. China berada di posisi berikutnya dengan 29 orang yang telah melakukan perjalanan ke luar angkasa. China juga menjadi negara ketiga yang meluncurkan manusia menggunakan roketnya sendiri.
Bermula dari Yuri Gagarin
Tonggak sejarah penerbangan manusia ke luar angkasa terjadi pada 12 April 1961, ketika kosmonaut Uni Soviet Yuri Gagarin menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Menggunakan pesawat Vostok 1, Gagarin menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi Bumi dalam penerbangan selama sekitar 108 menit. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting Uni Soviet dalam persaingan antariksa dengan Amerika Serikat.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 10 Oktober 1967, Outer Space Treaty mulai berlaku. Perjanjian tersebut menegaskan bahwa luar angkasa harus digunakan untuk tujuan damai dan tidak dapat diklaim sebagai wilayah suatu negara.
Kemajuan eksplorasi kemudian berlanjut hingga misi Apollo 11. Pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong menjadi manusia pertama yang berjalan di permukaan Bulan.
Perempuan Masih Minoritas
Meski jumlah manusia yang telah mencapai luar angkasa terus bertambah, keterwakilan perempuan masih relatif rendah.
Dari 746 orang yang telah melakukan perjalanan ke luar angkasa, sebanyak 112 orang atau sekitar 15 persen merupakan perempuan. Valentina Tereshkova dari Uni Soviet menjadi perempuan pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa pada Juni 1963.
Amerika Serikat baru mengirim perempuan ke luar angkasa dua dekade kemudian melalui penerbangan Sally Ride pada Juni 1983.
Dalam beberapa tahun terakhir, penerbangan komersial turut meningkatkan jumlah perempuan yang melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Eksplorasi Antariksa Memasuki Babak Baru
Perkembangan penerbangan manusia ke luar angkasa kini tidak hanya dilakukan melalui program pemerintah. Penerbangan komersial turut membuka kesempatan bagi warga sipil untuk melakukan perjalanan ke luar atmosfer Bumi.
Pada April 2026, kru Artemis II melakukan penerbangan mengelilingi Bulan dan mencapai jarak sekitar 406.771 kilometer dari Bumi, melampaui rekor jarak yang sebelumnya dicapai Apollo 13 pada 1970.
Program Artemis selanjutnya diproyeksikan terus membawa manusia lebih dekat menuju eksplorasi Bulan. NASA menargetkan Artemis III pada 2027 dan Artemis IV pada 2028 untuk misi yang berkaitan dengan pendaratan manusia di sekitar kutub selatan Bulan.
India juga merencanakan penerbangan berawak pertama melalui program Gaganyaan pada 2027, yang ditargetkan menjadikan India negara keempat yang meluncurkan manusia menggunakan roketnya sendiri.
Sementara itu, China menargetkan pengiriman astronaut ke Bulan sekitar 2030.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa eksplorasi luar angkasa memasuki fase baru, dari persaingan antariksa antarnegara menuju kombinasi antara program nasional dan penerbangan komersial./Red.

