“Pernyataan itu kini di telan bulat-bulat oleh masyarakat, termasuk Anggota Komisi VI DPR RI dengan narasi yang sama. Narasi yang melukai hati kami, terutama Ibu kami yang sedang berjuang mencari keadilan yang tidak pernah diraihnya hingga tutup usia kemarin,” ujar Rury Afriansyah.
Persekongkolan Jahat
Dalam kisah perjuangan mencari keadilan, Raja Zubaidah bahkan beberapa kali memberi semangat dan kekuatan terhadap anaknya Rury Afriansyah dalam menghadapi dugaan persekongkolan jahat antara Ted Sioeng dengan BP Batam.
Rury Afriansyah dikenakan status tersangka atas tuduhan penipuan dan penggelapan. Masa kelam itu yang membuat Raja Zubaidah mulai rapuh kesehatannya. Wanita di usia senja itu juga menyaksikan bagaimana anaknya hendak diborgol tangannya di pesawat yang akan menerbangkan anaknya ke Jakarta.
Rury dituduh melakukan penipuan dan penggelapan yang sesungguhnya tidak pernah dilakukannya. Tetapi Tuhan tidak pernah tidur melihat orang yang teraniaya atas kejahatan yang tidak pernah dilakukannya.
“Saya akhirnya dinyatakan tidak terbukti sebagai pelaku tindak pidana penipuan dan penggelapan,” ucapnya.
Pada April 2024 Bareskrim Mabes Polri mengeluarkan surat SP3 (Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan). Ini merupakan bukti adanya persekongkolan hendak mengambil paksa lahan Pura Jaya dari tangan kami.
“Selama ini saya tidak dapat berteriak karena disandera dengan kasus atau dikriminalisasi,” kisah Rury Afriansyah mengenang Ibunya yang amat kuat memberi semangat kepadanya.
Kini ibundanya Raja Zubaidah telah tiada. Tinggal dirinya dan saudara-saudaranya akan terus mencari keadilan.
“Pagi ini aku pikir nak sarapan ama Mak…. Eee… Mak-ku dah tak ade… What do i fix? I fix nothing,” ujar Rury Afriansyah dengan berlinang air mata.
Masa-masa yang berat, seberat mencari keadilan yang hingga kini belum diraih oleh Rury Afriansyah Bersama saudarinya.
“Rumah masih menyimpan jejak langkahmu, namun sunyi tak lagi mengenal suaramu, Ibu… tetapi kehilanganmu membuatku kembali menjadi anak yang mencarimu,” tulis Zukriansyah dalam bait syair yang diciptakannya mengenang Ibunda Raja Zubaidah.
“Selamat jalan Ibunda Raja Zubaidah. Doa dan usahamu di masa hidup akan kami kenang. Tidurlah tenang, mahkotaku… doamu akan kubawa sepanjang usia, dan jika kelak kita dipertemukan di surga, akan kupeluk engkau erat-erat.”./Red.

