Hotel Purajaya di Nongsa Kota Batam, menjadi simbol sebagai karya anak tempatan dari suku Melayu.
Hal ini juga menjadi perjuangan keluarga Megat Rurry Afriansyah, dimana hotel tersebut dirobohkan paksa tanpa ada surat apapun dari pengadilan.
Dalam praktek perobohannya, aparat hadir, tapi tak menghentikan. Padahal, sengketa hukum masih berjalan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) saat itu.
Megat Rury sekaligus pemilik Hotel Purajaya sudah melapor resmi ke Polda Kepri. Megat JJ menjadi saksi kunci. Pihaknya menduga kuat ada mafia tanah dari luar daerah yang didukung oknum aparat dan politisi.
“Bahkan, seorang Youtuber yang vokal mengungkap ketidakadilan atas kasus perobohan hotel kami, sempat ditawari suap agar diam, tapi ia menolak,” ungkap Megat Rury Afriansyah. Sabtu (24/08).
Ia menyebut, jika LAM Kepri sudah kirim surat ke Presiden, Komisi III, dan Komisi VI DPR. Isinya tegas: perobohan Purajaya adalah kriminalisasi hukum dan kezaliman terhadap Melayu.
“Namun hingga kini, Presiden Prabowo tidak menanggapi,” singkatnya.
Ironisnya, 17 Agustus 2025 yang lalu, Presiden Prabowo mengenakan busana adat Melayu lengkap dengan tanjak di Istana Merdeka, menyebut bangga dengan Melayu. Tapi di Batam, simbol Melayu dihancurkan, tokoh Melayu diperlakukan seolah tak berarti.
“Melayu bukan lemah. Melayu bukan hilang. Melayu adalah akar bangsa Indonesia. Dan bangsa tanpa akar, akan tumbang,” pungkas Megat Rurry./Red.

