Rury menerima amanah itu. Ia diangkat sebagai Ketua Saudagar Rumpun Melayu pada tahun 2017 dan segera mendirikan Koperasi Melayu. Ibu-ibu di pulau dibekali mesin batik, alat tenun, dan perlengkapan kemasan untuk keupuk serta kuliner khas Nelayan mendapat bibit keramba, petani diberi pupuk. Bukan uang tunai, tapi Rury ingin mereka berdiri di kaki sendiri.

“Jangan hanya puas dengan ikan, nasi, dan secangkir kopi. Melayu harus mandiri, bukan sekadar menjual tanah lalu menyesal,” pesannya.

Hotel Purajaya: Mahkota yang Dirampas
Puncak kebanggaan keluarga adalah Hotel Purajaya. Soft launch 1996, hotel ini simbol kerja keras ayahnya sekaligus lambang marwah Melayu di Batam.

Namun pada 2023, Purajaya dirobohkan tanpa kejelasan hukum. Darah Rury mendidih. Ia melapor ke Polda tapi dicegat. Ke DPR hingga dibentuk Panja, tak berbuah. Surat ke Presiden juga tak berbalas.

Di balik puing, ia melihat jejaring gelap bahwa mafia lahan, pejabat yang bungkam, dan uang besar yang menutup semua pintu.

Peraturan Pemerintah 25/2025 dan 28/2025 memberi BP Batam “super power”, namun celah yang dimanfaatkan. Nama Akim disebut sebagai bandar uang.

“Mereka punya ratusan miliar dolar. Saya hanya punya masyarakat Melayu yang berdarah pejuang,” ujar Rurry.

Dari Koperasi ke Medan Perlawanan
Sejak Purajaya runtuh, seluruh tenaga Rurry tercurah pada perjuangan hukum dan pengembalian marwah Melayu. Koperasi tetap berjalan, tetapi fokusnya kini perlawanan: menulis sejarah, menuntut hak, menggugat aturan yang menindas.

Ia mengingatkan bahwa Kesultanan Riau-Lingga tak pernah menyerahkan peta dan tanah kepada siapa pun—bahkan bila harus diuji di Den Haag. Ia mendorong agar Riau-Lingga diakui sebagai Daerah Istimewa, demi menjaga martabat dan marwah.

“Kami bukan paling bersih, tapi kami suka membersihkan. Bukan paling jujur, tapi kami menghargai kejujuran. Bukan paling baik, tapi kami selalu mengusahakan kebaikan,” ujar Tengku Fuad, kalimat dari penyengat yang kini sering di ingat Rury.

Pantun Marwah Melayu
Rury kerap menutup pidatonya dengan pantun ciptaannya sendiri

Bukan kayu sembarang kayu
Kayu kami tumbang ke tanah
Bukan Melayu sembarang Melayu
Inilah Melayu, si tuan rumah.

Apa tanda sebatang kayu
Tempat bersandar di kala sunyi
Apa tanda kami Melayu
Tak banyak bising, tak banyak bunyi.

Apa tanda sebatang kayu
Ditual-tual jadi sagu
Apa tanda kami Melayu
Jangan diusik, jangan diganggu.

Sedap rasa si gubal sagu
Makan bersama gulai keli
Jangan usik tanah Melayu
Harga diri tak bisa dibeli.

Harapan di HUT ke-23 Kepulauan Riau
Pada hari ulang tahun ke-23 Provinsi Kepulauan Riau, doa Rury tegas dan secara resmi bersurat ke PBB di New York perihal keadilan untuk semua elemen – elemen bangsa melayu sekaligus penuh kasih.

“Semoga Kepri tetap menjadi rumah yang damai bagi siapa pun, tempat di mana marwah Melayu dijaga, alam dilindungi, dan keadilan ditegakkan. Semoga pemimpin kita mengutamakan rakyat, bukan hanya angka dan kepentingan sesaat, dan semoga generasi muda berani berdiri tegak, melanjutkan perjuangan tanpa takut pada uang dan kekuasaan,” tuturnya.

Bagi Megat Rurry Afriansyah, HUT ke-23 bukan sekadar pesta. Tapi lebih pada memaknainya. Ini panggilan untuk memastikan Riau Kepri tumbuh makmur tanpa kehilangan jati diri. Ramah pada dunia, namun teguh dalam menjaga marwah Melayu adalah harga yg tidak ada nilai tawarnya (Mutlak).

Salam joeang bangse melayu.

#save_bumiputra
#save_riaukepri
#save_marwahmelayu

Penulis : Megat Rury Afriansyah
Editor : Red.