Di tengah gencarnya narasi pembangunan nasional dan visi menuju Indonesia Emas, masih terdapat wilayah-wilayah yang seolah tertinggal dari perhatian negara.

Salah satunya adalah Kepulauan Nias, sebuah daerah yang hingga hari ini masih menghadapi persoalan serius dalam sektor pendidikan. Akses yang sulit, fasilitas sekolah yang minim, hingga lemahnya keberpihakan pemerintah menjadi potret nyata ketimpangan pendidikan yang belum terselesaikan.

Pendidikan seharusnya menjadi jembatan menuju kemajuan. Namun di Nias, pendidikan justru sering berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Banyak siswa harus berjalan jauh melewati jalan berlumpur, sungai, hingga wilayah terisolasi hanya untuk sampai ke sekolah.

Bahkan, terdapat sekolah yang proses belajar mengajarnya terganggu akibat buruknya infrastruktur dan minimnya perhatian pemerintah terhadap daerah terpencil.

Ironisnya, kondisi ini bukan persoalan baru. Pemerintah daerah maupun pusat telah lama mengetahui persoalan pendidikan di Nias, namun solusi yang diberikan sering kali hanya sebatas janji dan formalitas administratif.

Masih banyak sekolah dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan, kekurangan tenaga pengajar, hingga fasilitas dasar yang tidak memadai.

Hal ini menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir dalam menjamin hak pendidikan yang layak bagi masyarakat di daerah tertinggal.

Rendahnya kualitas pendidikan di Nias bukan disebabkan oleh rendahnya semangat belajar masyarakat, melainkan akibat ketimpangan pembangunan yang terus dibiarkan.