Amsakar dan Li Claudia mesti menyusun strategi yang matang. Melawan kotak kosong bukan berarti otomatis menang di gelanggang. Pilwako Makassar 2018 silam telah memberikan catatan sejarah. Pasangan Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu), harus bertekuk lutut kalah dengan kotak kosong.
Ini harus menjadi pelajaran yang bagi Amsakar Achmad dan Li Claudia. Rudi tidak mungkin membiarkan mereka menang mudah. Ia tak mau dipecundangi dengan gampang. Semua energi yang ada bisa saja ia kerahkan, meski harus melawan kekuasaan besar.
Mesin politik yang ada di Amsakar dan Li Claudia harus melupakan euforia yang tengah membara. Waktu untuk terus bergerak guna mensosialisasikan dan men-tackle isu yang mulai menyerempet ke arah SARA harus segera dicarikan formulanya. Partai-partai pengusung harus bergerak menggunakan segala sumber daya yang ada. Tidak hanya setakat memberikan secarik kertas sebagai syarat pendaftaran. Pun begitu dengan simpul-simpul relawan yang ada, sudah seharusnya door to door untuk lebih mengenalkan keduanya dengan cara yang kreatif dan inovatif. Ini sangat mutlak dilakukan guna meraih kemenangan.
Terakhir, di hari H pelaksanaan, patut dijaga para pemilih yang memiliki hak suara. Karena apabila Pilwako Batam 2024 memang melawan kotak kosong, hiruk pikuk di masyarakat akan tidak ada. Dikhawatirkan para pemilih tidak mau pergi atau bahkan akan dikondisikan untuk tidak pergi mencoblos ke TPS untuk memilih. Ini alarm yang sangat bahaya, patut diantisipasi caranya agar tingkat partisipasi tetap tinggi.
Patut disimak hingga di akhir pendaftaran, akankah Pilwako Batam akan pertama kali dalam sejarah, tercipta melawan kotak kosong?. Yang patut digarisbawahi, meski itu terjadi, Rudi akan tetap menjadi lawan sebenarnya bagi Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra. Kita simak saja ke depannya!./Red.
Oleh : Ibal Zulfianto

