Wacana Pilwako Batam 2024 akan hanya diikuti satu kontestan semakin tercium kuat. Hingga hari ini, 37 kursi dari total keseluruhan 50 kursi di DPRD Kota Batam telah memberikan rekomendasi akan mengusung calon wali kota dan calon wakil wali kota Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra.

Praktis, kini hanya menyisakan PDI Perjuangan dan PKS yang belum memberikan rekomendasi kepada kandidat lain yang berkeinginan maju pada pesta rakyat lima tahunan tersebut. Dengan 13 kursi yang tersisa, nafsu wali kota Batam petahana Muhammad Rudi untuk mewariskan jabatan kepada istrinya Marlin Agustina masih terbuka lebar. Rudi dengan segala jaringan dan kekuatan uang yang dimilikinya masih berpeluang untuk “mengkondisikan” dua partai yang sebenarnya “tak terlalu akrab” tersebut.

Amsakar dan Li Claudia yang telah mendapat “golden tiket” untuk berlaga, seyogyanya tidak boleh terbuai dan merasa di atas angin. Yang mereka hadapi, seorang Rudi. Orang yang bisa dikatakan mempunyai infrastruktur dalam segala hal pada hari ini di kota Batam.

Rudi tentu tidak akan tinggal diam membiarkan “tsunami politik” yang menimpanya berserta keluarganya. Apabila ia mendapatkan tiket, ia akan all out menghadapi Amsakar dan Li Claudia, tak peduli meski elit politik yang sedang berkuasa ada di pihak mereka berdua.

Apabila Rudi gagal mendapatkan tiket untuk istrinya, dan Amsakar-Li Claudia akan berhadapan dengan kotak kosong pada 27 November 2024 mendatang, dipercaya keduanya akan tetap head to head dengan Rudi beserta power yang dia miliki diatas gelanggang.

Dengan masih menguasai dua institusi besar yakni, Pemko Batam dan BP Batam, Rudi mempunyai infrastruktur yang begitu memadai. Belum lagi, jaringan RT/RW yang masih sangat loyal dan masih patuh dengannya. Ditambah, kader-kader militan di Partai NasDem, yang meski secara kepartaian telah memberikan rekomendasi kepada Amsakar dan Li Claudia. Faksi di NasDem yang masih ikut apa kata Rudi masih sangat besar hingga detik ini.

Amsakar dan Li Claudia mesti menyusun strategi yang matang. Melawan kotak kosong bukan berarti otomatis menang di gelanggang. Pilwako Makassar 2018 silam telah memberikan catatan sejarah. Pasangan Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu), harus bertekuk lutut kalah dengan kotak kosong.

Ini harus menjadi pelajaran yang bagi Amsakar Achmad dan Li Claudia. Rudi tidak mungkin membiarkan mereka menang mudah. Ia tak mau dipecundangi dengan gampang. Semua energi yang ada bisa saja ia kerahkan, meski harus melawan kekuasaan besar.

Mesin politik yang ada di Amsakar dan Li Claudia harus melupakan euforia yang tengah membara. Waktu untuk terus bergerak guna mensosialisasikan dan men-tackle isu yang mulai menyerempet ke arah SARA harus segera dicarikan formulanya. Partai-partai pengusung harus bergerak menggunakan segala sumber daya yang ada. Tidak hanya setakat memberikan secarik kertas sebagai syarat pendaftaran. Pun begitu dengan simpul-simpul relawan yang ada, sudah seharusnya door to door untuk lebih mengenalkan keduanya dengan cara yang kreatif dan inovatif. Ini sangat mutlak dilakukan guna meraih kemenangan.

Terakhir, di hari H pelaksanaan, patut dijaga para pemilih yang memiliki hak suara. Karena apabila Pilwako Batam 2024 memang melawan kotak kosong, hiruk pikuk di masyarakat akan tidak ada. Dikhawatirkan para pemilih tidak mau pergi atau bahkan akan dikondisikan untuk tidak pergi mencoblos ke TPS untuk memilih. Ini alarm yang sangat bahaya, patut diantisipasi caranya agar tingkat partisipasi tetap tinggi.

Patut disimak hingga di akhir pendaftaran, akankah Pilwako Batam akan pertama kali dalam sejarah, tercipta melawan kotak kosong?. Yang patut digarisbawahi, meski itu terjadi, Rudi akan tetap menjadi lawan sebenarnya bagi Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra. Kita simak saja ke depannya!./Red.

Oleh : Ibal Zulfianto