“Kepercayaan rakyat ini tidak bisa dipatahkan oleh narasi sepihak yang tidak berimbang. Apa yang dibangun Tempo sangat keliru dan berpotensi menyesatkan publik,” lanjutnya.
Ia menilai penyajian cover tersebut telah keluar dari koridor kritik yang sehat dan justru mengarah pada pembentukan opini yang merugikan serta tidak berdasar.
“Pemberitaan seperti ini bukan lagi dalam koridor kritik, melainkan sudah mengarah pada pembentukan opini yang merugikan dan tidak berdasar,” katanya.
Wan El Kenz menegaskan bahwa kebebasan pers tetap harus dijalankan dalam batas etika, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehormatan individu.
“Kebebasan pers bukan kebebasan tanpa batas. Ada etika, ada tanggung jawab, dan ada kewajiban menjaga kehormatan individu. Jika ini diabaikan, maka yang rusak bukan hanya objek pemberitaan, tetapi juga kredibilitas pers itu sendiri,” ujarnya.
Atas dasar itu, ia mendesak Dewan Pers untuk melakukan evaluasi serius terhadap praktik jurnalistik yang dinilainya menyimpang serta memastikan marwah pers tetap berdiri di atas fakta, etika, dan keadilan.
“Jangan sampai kebebasan pers dijadikan tameng untuk menyerang secara tidak adil. Kami tidak akan tinggal diam terhadap narasi yang merendahkan dan tidak bertanggung jawab,” tutupnya./Red.

