Ketua Bappilu Partai NasDem Provinsi Kepulauan Riau, Wan El Kenz, mengecam keras cover majalah Tempo yang menampilkan karikatur Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh.

Ia menilai visual tersebut telah melampaui batas etika jurnalistik dan mencerminkan praktik pemberitaan yang kebablasan.

Menurut Wan El Kenz, apa yang ditampilkan dalam cover tersebut bukan lagi bentuk kritik konstruktif, melainkan penggambaran yang merendahkan martabat seorang tokoh bangsa.

“Yang ditampilkan bukan lagi kritik yang konstruktif, melainkan penggambaran yang merendahkan martabat Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Ini bukan sekadar kekeliruan, tetapi bentuk ketidakadilan dalam membangun opini publik yang berpotensi menyesatkan,” ujar Wan El Kenz dalam keterangannya, Selasa (14/04).

Ia menilai media sebesar Tempo semestinya tetap menjunjung tinggi akurasi, keberimbangan, dan etika jurnalistik dalam setiap produk pemberitaannya.

“Media sekelas Tempo seharusnya menjunjung tinggi akurasi dan etika, bukan justru menyajikan narasi yang terkesan ngasal dan tendensius,” tegasnya.

Wan El Kenz menegaskan, Surya Paloh merupakan tokoh bangsa yang selama ini dikenal konsisten menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun partai politik. Nilai tersebut, kata dia, menjadi fondasi perjuangan Partai NasDem hingga saat ini.

Menurutnya, kepemimpinan Surya Paloh juga terbukti melalui capaian elektoral Partai NasDem pada Pemilu Legislatif 2024, di mana partai tersebut berhasil menembus lima besar nasional dengan perolehan sekitar 14 juta suara atau 9 persen suara nasional.

“Kepercayaan rakyat ini tidak bisa dipatahkan oleh narasi sepihak yang tidak berimbang. Apa yang dibangun Tempo sangat keliru dan berpotensi menyesatkan publik,” lanjutnya.

Ia menilai penyajian cover tersebut telah keluar dari koridor kritik yang sehat dan justru mengarah pada pembentukan opini yang merugikan serta tidak berdasar.

“Pemberitaan seperti ini bukan lagi dalam koridor kritik, melainkan sudah mengarah pada pembentukan opini yang merugikan dan tidak berdasar,” katanya.

Wan El Kenz menegaskan bahwa kebebasan pers tetap harus dijalankan dalam batas etika, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehormatan individu.

“Kebebasan pers bukan kebebasan tanpa batas. Ada etika, ada tanggung jawab, dan ada kewajiban menjaga kehormatan individu. Jika ini diabaikan, maka yang rusak bukan hanya objek pemberitaan, tetapi juga kredibilitas pers itu sendiri,” ujarnya.

Atas dasar itu, ia mendesak Dewan Pers untuk melakukan evaluasi serius terhadap praktik jurnalistik yang dinilainya menyimpang serta memastikan marwah pers tetap berdiri di atas fakta, etika, dan keadilan.

“Jangan sampai kebebasan pers dijadikan tameng untuk menyerang secara tidak adil. Kami tidak akan tinggal diam terhadap narasi yang merendahkan dan tidak bertanggung jawab,” tutupnya./Red.