Ketika dikirim pesan juga masuk centang 2 tanda pesan telah sampai dan nomornya aktif. Karena khawatir dan curiga, keluarga kemudian ke polisi untuk melaporkan kejadian korban hilang tersebut. “Kami langsung ke Polsek dan diarahkan ke Polres untuk laporan orang hilang. Di sana suruh menunggu, ndak tahu menunggu apa,” kata dia.
Upacara pencarian pun dilakukan dengan mencoba melacak ke nomor pribadi, alamat email ataupun nomer Imei HP kakaknya namun semuanya gagal karena memang telah di log out. Keluarga juga berusaha untuk menanyakan keberadaan kakaknya dengan mendatangi ‘orang pintar’.
Orang pintar tersebut mengatakan jika kakaknya masih dalam keadaan baik-baik saja dan pergi bersama teman-temannya. Keluarga korbanpun akhirnya sedikit lega dan menduga jika korban tengah bersama-sama dengan rekannya. “Hari Jumat (23/2) kami ke orang pintar. Dan katanya baik-baik saja,” tambahnya.
Namun ditunggu hingga hari Sabtu, korban ternyata tidak kunjung pulang. Sabtu malam, keluarga mendapat kabar dari bos tempat Fara bekerja yang menyatakan jika Sang Bos dipanggil oleh polisi untuk datang ke lokasi penemuan mayat perempuan.
“Didekatnya ditemukan KTP kakaknya dan juga KTP yang diduga milik pelaku, “ujarnya. Minggu (24/2/2024) dinihari, sekira pukul 01.30 WIB dia didatangi reserse Polresta Yogyakarta dan diminta untuk datang ke RS Bhayangkara guna identifikasi mayat. Sesampai di rumah sakit, dia langsung diminta mengenali sosok yang ditemukan di Kotabaru.
“Saya memastikan itu kakak saya. Meski sulit dikenali tetapi saya hafal bentuk wajahnya,” kata dia.
Saat pertama kali melihatnya, Kholud mengaku kaget karena muka kakaknya sudah tidak berbentuk penuh luka lebam. Di samping itu juga ada luka bekas senjata tajam di leher dan di dada kiri yang tembus ke ulu hati. Seluruh keluarga kaget dan terkejut dengan peristiwa tersebut karena selama ini memang tidak ada perilaku yang aneh pada diri kakaknya. Semua berjalan normal dan tidak nampak ada masalah sama sekali. Namun dia memang tidak tahu yang sebenarnya karena memang kakaknya tertutup.
“Kakak saya memang tertutup sama keluarga kalau ada masalah. Mungkin cerita ya sama teman kerja ataupu teman di kampung. Namun ceritanya hanya sebatas apa yang disuka,” tuturnya. Tak ada pesan khusus dari Fara yang diingat keluarganya kecuali keinginan anak sulung dari 2 bersaudara ini yang ingin menonton konser BTS di Jakarta tanggal 15 Maret 2024 mendatang. Namun niat tersebut belum kesampaian, Fara sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.
Sumber: Sindonews.com
(Red)

