“Sepengalaman saya selama ini, anak di sekitar perusahaan, selalu kita rekrut untuk tenaga kerja khususnya bagi mereka yang unskill. Namun, kami yang tergabung dalam forum HRD Batam ini, melihat, belakangan ada oknum yang menjadikan kebutuhan tenaga kerja ini sebagai ladang bisnis. Itu masalah yang kami alami saat ini,” jelas dia.
“Atas hal itu kami berharap, ke depan pihak terkait dapat mengecek ke lapangan untuk mengetahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dan berapa banyak perusahaan yang telah merekrut tenaga kerja bagi warga sekitar perusahaan,” sambung dia.
Daniel menambahkan, di dunia shipyard saat ini, kebutuhan tenaga kerja terbilang cukup tinggi, khususnya untuk empat posisi yakni sebagai welder, fitter, painter dan blaster.
“Namun saat ini, sejumlah perusahaan saat ini banyak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan ini. Agar ini bisa terpenuhi, kami harap ke depan akan ada sinergitas antara pemerintah dan LPK agar banyak mempersiapkan skill para tenaga kerja tersebut,” kata dia.
Daniel menyebut, untuk mewujudkan rencana itu memang dibutuhkan biaya yang cukup besar, lantaran alat yang digunakan dalam pelatihan terbilang cukup mahal. Belum lagi hal yang menyangkut lainnya.
“Di situlah pemerintah memainkan perannya. Pemerintah bisa melibatkan perusahaan dengan CSR-nya untuk pengadaan alat. Termasuk di dalamnya tenaga skill untuk melatih mereka. Kombinasi ini akan membuat persoalan ini dapat diurai nantinya,” jelas dia.
Kemudian, para praktisi HRD yang hadir pada pertemuan ini, memberikan gambaran, tahun 2025 mendatang, setidaknya di Kota Batam dan Provinsi Kepri, dibutuhkan tenaga kerja sebanyak lebih kurang 30 ribu orang guna memenuhi industri shipyard, serta oil and gas.
Mendengar pemaparan tersebut, Amsakar menilai ada potensi besar di masa mendatang agar program prioritas yang ASLI dengungkan di pelbagai kesempatan dapat direalisasikan.
“Ini angka yang cukup besar, dan apabila langkah alternatif ini dapat dijalankan pemerintah ke depan, setidaknya secara perlahan angka pengangguran terbuka yang selama ini menjadi persoalan di Kota Batam dapat kita selesaikan secara berkala di masa mendatang. Kita mesti optimalkan BLK yang ada, bersinergi dengan stakeholder lainnya agar ini bisa berjalan,” jelas Amsakar.
“Saya berharap, nantinya sumbangsih pemikiran dari para praktisi HRD terus dapat diberikan kepada saya. Agar banyak formula yang dapat kita lakukan,” tutup Amsakar./Red.

