Baik Huzrin Hood, maupun Megat Rury Afriansyah, sepakat agar pemuda dan tokoh dari Puak Melayu jangan jadi penonton di negerinya sendiri. Ada fenomena generasi muda Puak Melayu mengalami perpecahan dan krisis jati diri. Hal itu terlihat dalam fenomena pergolakan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa Rempang dan Galang, kata Huzrin Hood, serta peristiwa perobohan Hotel dan Resort Purajaya, menjadi contoh nyata upaya menyingkirkan para tokoh dan pengusaha Melayu dari Batam dan Kepri.

Kontribusi Puak Melayu dalam perjalanan bangsa Indonesia cukup besar, baik dari bahasa, adat istiadat, serta budaya yang telah melembaga di berbagai sendi kehidupan bernegara.

“Sifat dari Puak Melayu adalah menjaga adat istiadat luhur, dapat berbaur dengan semua kalangan, dan suka mengalah. Di tengah sifat yang terbuka, ramah dan dapat beradaptasi dengan semua kalangan, janganlah pulau dimanfaatkan oleh pemerintah maupun penguasa untuk membiarkan Puak Melayu tersisihkan, dan sering dijadikan sebagai alat dan korban saja,” tegas Huzrin Hood.

”Adat itu pedoman hidup orang Melayu. Di dalamnya ada nilai, etika, dan tunjuk ajar yang membentuk karakter. Jika adat ditinggalkan, maka identitas dan kekuatan moral generasi muda juga akan ikut melemah. Karena itu, generasi muda dan pengusaha dari Puak Melayu semestinya tampil di barisan depan dalam memberikan kontribusi pembangunan, baik dari sisi budaya maupun masalah ekonomi,” kata Huzrin Hood.

Dia menyoroti maraknya perbedaan pandangan politik dan kepentingan kelompok yang berpotensi memecah belah masyarakat. Ia meminta pemuda menjadi perekat persaudaraan, bukan justru menjadi bagian dari konflik sosial.

“Pemerintah tidak seharusnya membiarkan terjadinya adu domba di tengah kepentingan ekonomi. Kepulauan Riau adalah rumah Bersama, di mana setiap puak harus mendapat kesempatan secara merata dan proporsional,” pungkasnya./Red.