Tidak ada program makan sekolah besar di dunia yang berhasil hanya dengan mengandalkan satu lembaga pusat. Jepang berhasil karena sekolah menjadi bagian dari sistem. Brasil berhasil karena pemerintah daerah memegang peran penting dalam pelaksanaan. Skotlandia berhasil karena pengawasan lokal berjalan beriringan dengan standar nasional. Indonesia memiliki seluruh instrumen itu—namun belum sepenuhnya memanfaatkannya.

Yang lebih mengkhawatirkan justru persoalan tata kelola. Pemilihan yayasan dan mitra pengelola dapur beberapa kali dipersoalkan. Transparansi belum memuaskan. Ada laporan pembayaran yang terlambat. Ada keluhan kualitas bahan baku yang menurun akibat tekanan biaya. Ada dugaan konflik kepentingan yang terus menjadi bahan percakapan publik. Ketika uang negara yang digunakan mencapai ratusan triliun rupiah, pertanyaan tentang efisiensi dan akuntabilitas bukan lagi gangguan. Ia adalah kewajiban.

Di tengah semua itu, saya teringat sebuah anekdot lama tentang Nurcholish Madjid. Menjelang Reformasi 1998, Cak Nur berkeliling menawarkan gagasan besar tentang demokrasi, kebangsaan, dan masa depan Indonesia. Banyak orang terpesona oleh keluasan pikirannya. Namun ada pula yang menyindir dengan jenaka: “Visi dan misi Cak Nur luar biasa, hanya gizinya saja yang belum jelas.” Kalimat itu dulu menjadi lelucon politik. Hari ini, sejarah seolah membalikkan cermin. MBG memang program bergizi. Tetapi program ini masih membutuhkan visi, misi, dan tata kelola yang lebih terang.

Keseluruhan struktur BGN dan para pemangku kepentingannya perlu memahami: apa sebenarnya tujuan MBG? Apakah sekadar membagikan makanan? Menurunkan angka stunting? Memperbaiki kualitas pendidikan? Mengurangi kemiskinan? Membangun ketahanan pangan nasional? Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab secara jernih, karena program sebesar ini tak boleh berjalan hanya dengan kekuatan niat baik. Apalagi tantangan berikutnya jauh lebih sulit: apakah semua anak harus menerima manfaat yang sama, tanpa melihat kondisi ekonomi keluarga mereka? Apakah pendekatan universal adalah pilihan paling adil ketika sumber daya negara terbatas dan kelompok rentan masih sangat banyak?

Pertanyaan semacam ini memang tidak populer. Namun kebijakan yang baik hampir selalu lahir dari keberanian mengajukan pertanyaan yang tidak populer. Saya berharap Nanik tidak takut pada pertanyaan-pertanyaan itu. Sebaliknya, ia perlu mengundangnya masuk ke ruang rapat, ke meja evaluasi, dan ke dalam setiap laporan yang diterimanya. Karena program besar tidak pernah gagal akibat kekurangan niat baik. Program besar biasanya gagal ketika para pengelolanya mulai percaya bahwa niat baik sudah cukup menggantikan sistem, data, pengawasan, dan koreksi.

Jangan hanya menjadi Kepala Badan Gizi Nasional. Tetaplah menjadi wartawan yang kebetulan sedang memimpin Badan Gizi Nasional. Dengarkan laporan keberhasilan, tetapi cari juga cerita yang tidak masuk laporan. Percayai data, tetapi periksa kembali sumbernya. Sambut tepuk tangan, tetapi jangan abaikan keluhan yang datang dari dapur, sekolah, orang tua, dan anak-anak—mereka yang menjadi alasan program ini dilahirkan. Sebab republik ini sudah terlalu sering membayar mahal kesalahan yang sebenarnya telah diketahui sejak awal.

Dan karena itu, pesan yang paling penting dan sederhana: Jangan diulangi.

Sumber : Ilham Mendrofa
Editor : Red