Sektor industri pengolahan masih menjadi penggerak utama perekonomian Batam dengan kontribusi sekitar 57 persen. Pada saat yang sama, aktivitas investasi juga terus menunjukkan tren positif.

Berdasarkan pendekatan bottom-up BP Batam, realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp69,3 triliun. Momentum tersebut berlanjut pada 2026. Hingga semester pertama tahun ini, nilai investasi yang masuk telah mencapai Rp38,97 triliun.

Pertumbuhan ekonomi tersebut juga berjalan beriringan dengan sejumlah indikator pembangunan manusia. Pada 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam mencapai 83,80, sedangkan tingkat kemiskinan turun menjadi 3,81 persen.

Angka-angka tersebut menjadi bagian dari gambaran perjalanan Batam sebagai kota yang terus memperkuat fondasi ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, Amsakar menilai semangat kebersamaan harus terus dipelihara. Baginya, kolaborasi bukan hanya diperlukan untuk meraih penghargaan, tetapi juga menjadi modal penting agar Batam mampu menghadapi berbagai tantangan pembangunan ke depan.

“Narasi kebersamaan ini harus menjadi modal baru bagi Kota Batam untuk bergerak lebih cepat lagi,” tegasnya.

Di bawah kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, penghargaan tersebut diharapkan menjadi energi baru untuk menjaga momentum pembangunan Batam. Pada saat yang sama, capaian itu menjadi tanggung jawab untuk terus bekerja lebih baik, mendengar kebutuhan masyarakat, dan memastikan setiap langkah pembangunan memberi manfaat nyata bagi warga Batam./Red.