Dengan posisi strategis Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, festival ini akan mempertemukan akademi sepak bola serta pemain muda dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
Melalui kolaborasi antar-akademi, dukungan pemerintah, serta keterlibatan orang tua, BP Batam berharap festival ini menjadi fondasi pembinaan jangka panjang sekaligus momentum kebangkitan sepak bola usia dini di Kepri.
Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, ajang olahraga internasional dapat menjadi instrumen efektif untuk memperkuat citra Batam di mata dunia.
“Batam tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga kota yang dinamis, aman, dan nyaman untuk agenda internasional. Festival seperti ini mengirimkan pesan positif bahwa Batam memiliki ekosistem yang mendukung pariwisata olahraga sekaligus daya tarik investasi,” kata Amsakar.
Ia menambahkan bahwa pembangunan Batam tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kreativitas generasi muda.
“Investor tidak hanya melihat kawasan industri, tetapi juga kualitas hidup kota, talenta muda, dan kemampuan daerah menggelar acara yang tertata. Kegiatan ini menampilkan wajah Batam yang terus bergerak maju,” imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Kepala BP Batam sekaligus Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra. Ia menilai festival tersebut akan memberikan multiplier effect bagi daerah, mulai dari meningkatnya aktivitas UMKM hingga terbukanya jejaring internasional.
“Kita ingin Batam dikenal sebagai kota yang nyaman untuk tinggal, bekerja, dan tumbuh. Kehadiran para peserta, pelatih, dan keluarga dari negara tetangga akan membawa energi positif,” tutup Li Claudia.
BP Batam menargetkan penyelenggaraan BP Batam International Football Festival 2026 menjadi tonggak pembinaan sepak bola usia dini di Kepulauan Riau sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai destinasi sport tourism bertaraf internasional./Red.

