Publik berhak mendapatkan informasi yang utuh, bukan potongan narasi yang disusun untuk menciptakan sensasi.
“Kami tidak alergi kritik. Bahkan kami terbiasa dikritik. Tapi kritik yang sehat berdiri di atas data, bukan dugaan yang dipoles menjadi seolah-olah kebenaran.
Menjadikan Ketua Umum kami sebagai objek framing yang merendahkan bukan hanya soal etika jurnalistik, tapi juga soal tanggung jawab moral,” tegasnya.
“Karena dalam setiap kata yang dipublikasikan, ada dampak yang ditanggung bukan hanya oleh individu, tetapi oleh jutaan kader dan simpatisan yang percaya pada perjuangan ini,” lanjutnya.
Jika demokrasi ingin tetap sehat, maka media harus tetap menjadi penjaga akal sehat bukan penggiring opini yang kehilangan kompas.
“Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami hanya menuntut keadilan dalam pemberitaan. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik satu tokoh atau satu partai, tetapi kualitas demokrasi kita sendiri. Dan bagi kami di NasDem, harga diri itu bukan untuk ditawar,” pungkas Dewi./Red.

