Saya menulis ini bukan sekadar sebagai kader, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar yang dibangun dengan idealisme, bukan transaksi.

Ada batas yang tidak boleh dilampaui dalam demokrasi: kritik boleh, bahkan harus. Tapi merendahkan martabat, menggiring opini tanpa kehormatan intelektualitu bukan lagi jurnalisme, melainkan penghakiman.

“Apa yang dilakukan Tempo terhadap Ketua Umum Partai NasDem bukan hanya menyentuh ranah personal, tetapi telah melukai nalar publik,” kata Dewi Sucowati, Sekretaris DPW Partai NasDem Kepri, Senin (13/04).

Narasi yang dibangun seolah-olah NasDem adalah entitas yang bisa “diperjualbelikan” adalah bentuk simplifikasi yang berbahaya, sekaligus merendahkan proses politik yang panjang, kompleks, dan penuh perjuangan.

“NasDem bukan komoditas. NasDem adalah gagasan. Kami lahir dari semangat restorasi bukan restorasi kekuasaan, tetapi restorasi cara berpikir politik yang bersih, terbuka, dan berani berbeda,” ucapnya.

Maka ketika ada framing yang mencoba menempatkan NasDem dalam logika pasar politik yang dangkal, di situlah kami merasa perlu bersuara.

“Tempo, sebagai media nasional yang punya sejarah panjang dalam menjaga demokrasi, seharusnya paham betul perbedaan antara kritik berbasis fakta dan insinuasi yang menggiring persepsi,” jelas Dewi, yang sudah menjabat sebagai Ketua KNPI Kepri itu.

Publik berhak mendapatkan informasi yang utuh, bukan potongan narasi yang disusun untuk menciptakan sensasi.

“Kami tidak alergi kritik. Bahkan kami terbiasa dikritik. Tapi kritik yang sehat berdiri di atas data, bukan dugaan yang dipoles menjadi seolah-olah kebenaran.

Menjadikan Ketua Umum kami sebagai objek framing yang merendahkan bukan hanya soal etika jurnalistik, tapi juga soal tanggung jawab moral,” tegasnya.

“Karena dalam setiap kata yang dipublikasikan, ada dampak yang ditanggung bukan hanya oleh individu, tetapi oleh jutaan kader dan simpatisan yang percaya pada perjuangan ini,” lanjutnya.

Jika demokrasi ingin tetap sehat, maka media harus tetap menjadi penjaga akal sehat bukan penggiring opini yang kehilangan kompas.

“Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami hanya menuntut keadilan dalam pemberitaan. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik satu tokoh atau satu partai, tetapi kualitas demokrasi kita sendiri. Dan bagi kami di NasDem, harga diri itu bukan untuk ditawar,” pungkas Dewi./Red.