Di tengah persaingan industri telekomunikasi yang terpusat di kota-kota metropolitan, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melakukan langkah untuk meningkatkan infrastruktur di wilayah yang kurang tersentuh kemajuan teknologi, yaitu Gunungsitoli, Pulau Nias, Sumatera Utara.

Melalui pembangunan jaringan yang menghubungkan masyarakat dengan dunia luar, IOH berinvestasi untuk mengatasi keterbatasan akses internet yang selama ini menjadi kondisi di daerah tersebut.

Pulau Nias, yang dikenal dengan pesona alam dan kekayaan budaya, memiliki tantangan dalam akses teknologi digital. Sinyal internet yang lemah dan tidak stabil menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mengakses informasi, pendidikan, dan peluang ekonomi. Kondisi ini berdampak pada potensi pengembangan daerah yang cukup besar.

Sebuah perubahan mulai terasa setelah IOH menggelontorkan investasi untuk meningkatkan infrastruktur jaringan telekomunikasi di Gunungsitoli. Investasi ini ditujukan untuk memberdayakan masyarakat Nias agar dapat terhubung di era digital, bukan hanya sekadar peningkatan kecepatan download atau streaming.

Di balik investasi tersebut, terdapat pengalaman nyata dari masyarakat lokal. Emak Donald Zebua, seorang penjual durian lokal yang sebelumnya kesulitan memasarkan produknya secara online karena sinyal yang putus-putus, menceritakan perubahannya ketika ditemui di lapak jualannya pada Senin sore (15/12).

“Dulu, saya hanya bisa menjual 50 buah durian per minggu di pasar tradisional dengan harga Rp 10.000 per buah. Sekarang, dengan menggunakan kartu Tri Indonsat, maka internet jauh lebih baik, bahkan saya bisa menjual 100 buah durian per minggu dengan harga Rp 15.000 per buah serta bisa mengekspor 200 buah durian ke Medan dan Sibolga setiap bulan,” ucapnya dengan senyum sumringah.

Kisah serupa juga dialami oleh Andi Donal Putra Zebua, seorang mahasiswa yang sebelumnya kesulitan mengikuti perkuliahan daring.

“Dulu, saya sering ketinggalan materi kuliah online dan nilai saya rata-rata hanya 6,” jelas Andi dengan penuh semangat.

“Sekarang, setelah ada internet yang stabil melalui kartu Tri Indonsat, nilai saya meningkat menjadi rata-rata 7. Saya juga bisa mengakses jurnal ilmiah online untuk mengerjakan tugas,” lanjutnya.

Investasi IOH ini berperan sebagai jembatan yang menghubungkan Gunungsitoli dengan dunia luar, memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi, pendidikan, dan peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau. Dampak positif dari investasi ini dirasakan oleh berbagai kalangan.

Meskipun demikian, perjalanan menuju digitalisasi Gunungsitoli yang menyeluruh masih merupakan proses yang panjang dan berkelanjutan. Masih terdapat tantangan yang perlu diatasi bersama, seperti kesenjangan digital yang masih lebar, tingkat literasi digital yang perlu ditingkatkan, dan ketersediaan konten lokal yang relevan dan bermanfaat.

Dengan investasi yang berkelanjutan dari IOH, masa depan Gunungsitoli diharapkan lebih cerah dan terhubung, membawa harapan yang lebih besar, peluang yang lebih luas, dan masyarakat yang lebih berdaya untuk meraih impian mereka./Setiaman Zebua.