“Biasanya dia yang urus, tapi akhir-akhir ini jawabannya ‘bukan urusan saya’. Akhirnya kami yang isi sendiri dengan bukti pengisian yang ada,” ucapnya.
Permasalahan lain muncul terkait pengendalian lalat di area TPA. Sebelumnya pihak UPTD menggunakan obat lalat merek Agita yang dinilai efektif, namun kini diganti dengan produk yang lebih murah dan diduga tidak memberikan hasil optimal.
“Sekarang lalat tidak mati dan semakin banyak,” keluh Menitehe, yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap kesehatan pekerja, masyarakat sekitar, serta kondisi lingkungan.
Wartawan telah melakukan upaya konfirmasi berulang kepada Kepala UPTD TPA Fa’akhadodo Lase (FL) melalui aplikasi pesan instan WhatsApp, namun tidak mendapatkan tanggapan.
Pada Selasa (06/01), upaya konfirmasi langsung juga dilakukan, namun pihak tersebut tetap tidak menjawab.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari Fa’akhadodo Lase terkait mengenai berbagai tudingan yang muncul. Media akan terus berupaya menghubungi semua pihak untuk mendapatkan keterangan yang berimbang.
Sementara itu, sejumlah elemen masyarakat dan pihak terkait mendesak agar segera dilakukan pemeriksaan internal guna menegakkan disiplin aparatur serta memastikan pelayanan publik di UPTD TPA berjalan sesuai aturan yang berlaku./Setiaman Zebua.

