Itikad baik pemimpin tidak akan luput dari catatan rakyat yang dipimpinnya, khususnya pemimpin di sektor yang terkait langsung dengan urusan perut dan nyawa (perekonomian dan keamanan) rakyat, yakni investasi dan tingkat kriminal. Jum’at (30/05/2025).
Dalam 5 (lima) tahun terakhir tercatat investasi di Kepri, khususnya Batam, anjlok akibat kebijakan tak pro investasi, di dalamnya ada kasus perobohan Purajaya, serta gangguan keamanan yang meghkawatirkan.
Sejak 1990-an hingga 2010, pendatang berbondong-bondong setiap hari masuk Batam karena tertarik melihat pertumbuhan industri. Beda dengan sekarang, industri masuk ke Batam karena pertumbuhan penduduk yang kian tidak terkendali.
Tahun 1990-an hingga awal 2000-an, perusahaan industri di Batam yang kesulitan mencari tenaga kerja, hingga merekrut tenaga kerja dari berbagai kota di Pulau Jawa, dan Pulau Sumatera.
Masih segar dalam ingatan kita, bagi yang telah berada di Batam pada era 1990-an, Wali Kota Batam ketika itu, RA Azis (alm), menyebut setiap hari ada 600 s.d 1.000 pendatang baru ke Batam yang masuk melalui pelabuhan domestic laut dan Udara. Tetapi semua pendatang yang rata-rata usia kerja, tertampung di perusahaan-peruahaan yang bertumbuh pesat di sejumlah kawasan industri.
Mereka cukup membawa map berisi lamaran kerja yang dikosongkan tujuan perusahaan-nya, foto copy KTP dan identitas lain dan daftar Riwayat hidup. Berkas itu dibawa sambal jalan ke sejumlah perusahaan di kawasan industri, paling lama 3 hari telah mendapat pekerjaan.
Dibandingkan dengan sekarang, belum hilang dari ingatan 2 tahun lalu ada ‘Job Fair’ di Sagulung didatangi ribuan pelamar, tidak ada satu pun dapat pekerjaan, malah besoknya, satu pick-up berkas lamaran dibuang ke tempat sampah.
Masalah Investasi
Catatan di ‘Mbah Google’ menyatakan pertumbuhan industri di Batam antara tahun 1990 hingga 2000 sangat pesat, ditandai dengan peningkatan jumlah kawasan industri dan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Pada tahun 1990-an, Batam mengalami perkembangan industri yang sangat pesat, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 17% per tahun. Bahkan pada tahun 1991, pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 31,28%.
Pada 1997 Batam hanya memiliki 9 kawasan industri, dalam kurun waktu 3 tahun menjadi 21 kawasan industri pada tahun 2000. Laju pertumbuhan ekonomi Batam selama tahun 1993 hingga 2000 rata-rata mencapai 11,69% per tahun.
Bahkan, selama krisis ekonomi tahun 1997-2000, saat perekonomian nasional mengalami kontraksi, Batam justru mengalami pertumbuhan positif sebesar 5,71% per tahun. Ini menunjukkan bahwa industri menjadi pilar utama perekonomian Batam.
Penyebab meningkatnya industri, selain karena lokasi strategis Batam, yakni dekat Singapura dan Malaysia, sekarang juga masih dekat, ada kebijakan pengembangan Otorita Batam (OB), yakni fokus melayani kebutuhan dunia usaha besar dan kecil.
Otorita Batam saat itu tidak sesukanya menarik lahan, atau tidak sesukanya memberikan sanksi kepada parter usaha. Begitu juga dengan keamanan, selama berada di bawah OB hampir nyaris terjadi pembunuhan, apalagi kepada ekspatriat.

