Izin samar-samar. Seperti hantu. Tak terlihat, tapi dijalankan. Tahu-tahu pancang-pancang menantang.
Menikam laut, menyingkirkan rakyat.
Hotel Purajaya
Hotel bersejarah dan dianggap sebagai simbol marwah Melayu. Namnu, dirobohkan tanpa hukum yang jelas.
Marwah dikubur mafia.
Hutan Mangrove di Batam
Digunduli demi reklamasi dan tambang. Benteng alami hilang. Ekonomi rakyat kecil ikut mati. Otonomi Daerah yang Gagal.
“Inilah wajah otonomi di Kepri. Layu sebelum berkembang. Mati sebelum hidup. Pendapatan diangkut pusat. Tanah dikuasai mafia. Pemimpin daerah jadi stempel,” ucap Monica.
Monica menyebut, Batam lebih parah. Dimana, Wali kota sekaligus Kepala BP Batam mempunyai cerita untuk simplifikasi, yang jadinya super power tak terkendali.
“Pendulum otonomi berbalik arah. Bukan rakyat yang berdaulat. Tapi pusat dan mafia yang berkuasa. Di atas kertas walikota memimpin, tapi semua tahu ada kuasa lain di belakang. Seperti wayang di panggung. Boneka di depan, tapi dalang rentenir yang menggerakkan,” jelasnya.
Dan kementerian?
Kementerian Dikebirikan. Lingkungan hidup, kelautan, semua diam. Membisu ketika mangrove ditebang.
Menutup mata ketika laut ditimbun.
Penjajah di Negeri Sendiri
Ini bukan Belanda, ini bukan Portugis dan ini penjajahan gaya baru. Penjajahan dengan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengalahkan undang-undang. Penjajahan dengan tanda tangan pejabat, penjajahan dengan jargon investasi.
“Rakyat Melayu ditindas bukan oleh asing, tapi oleh bangsanya sendiri. Ketidakadilan yang menyakitkan. Dari Kepri lahir bahasa persatuan, tapi rakyatnya disengsarakan. Dari Kepri lahir kitab moral, tapi tanahnya dikuasai mafia. Dari Kepri lahir semangat melawan penjajah, tapi sekarang harus melawan pemerintahnya sendiri,” tegasnya.
Penutup
23 tahun Kepri berdiri, tapi cita-cita otonomi daerah gagal diwujudkan. Warisan dijunjung, tapi rakyatnya disengsarakan. Bahasanya dipakai bangsa, tapi tanahnya dirampas mafia.
Kini saatnya berubah. Rakyat Melayu tidak akan tinggal diam. Rakyat Melayu akan bangkit. Merebut hak. Merebut marwah. Merebut masa depan.
Penulis/Sumber : Monica Nathan
Editor : Red.

