Monica Nathan kembali menulis tentang provinsi Kepulauan Riau yang biasa disebut Kepri.

Dalam keterangan kepada media pada Rabu (10/09), aktivis dari Amerika itu menyebutkan bahwa Kepri akan berusia 23 tahun pada 24 September 2025.

“Provinsi muda, tapi warisannya tua. Bahasa Indonesia lahir dari sini. Dari Penyengat, dari dalam syair Raja Ali Haji. Bahasa yang menyatukan 270 juta jiwa. Tapi ironisnya, tanah kelahirannya sendiri tidak dihargai,” kata Monica

Warisan Berharga
Pulau Penyengat ini Kecil, kurang lebih panjangnya dua kilometer. Dari sini lahir Gurindam Dua Belas ada Kitab moral Melayu yang bahasanya sederhana, namun pesannya tajam. Isinya tentang iman, adab dan pemimpin.

“Bahasa Melayu juga jadi bahasa dagang. Bahkan menjadi Lingua franca di Asia Tenggara. Dari Sriwijaya sampai Malaka, dan akhirnya, jadi bahasa persatuan Indonesia.” ucap Monica.

Sumpah Pemuda 1928
Ketika para pemuda berdebat tentang bahasa persatuan, pilihannya jatuh ke bahasa Melayu.
Bukan Jawa. Bukan Sunda. Bukan Batak. Bahasa Melayu dianggap paling inklusif. Paling sederhana.
Paling bisa diterima semua.

Bahasa yang dibakukan Raja Ali Haji di Penyengat.
Bahasa yang lahir dari Kepri. Bahasa yang kini kita sebut Indonesia.

Pisah dari Riau, demi Otonomi
Tahun 2002, Kepulauan Riau resmi berdiri. Berpisah dari Riau daratan. Menjadi provinsi sendiri.

Kenapa?
Karena rakyat pulau ingin otonomi. Supaya minyak, gas, bauksit, dan lautnya kembali untuk rakyat. Supaya kesejahteraan tidak hanya dinikmati Pekanbaru.

Cita-citanya jelas, yakni otonomi untuk kesejahteraan. Tapi 23 tahun berlalu, cita-cita itu melenceng jauh, dan memberikan luka yang dalam, seperti halnya yang terjadi di Natuna, dimana gas miliaran dolar diangkut keluar. Nelayan tetap miskin. Bintan dan Lingga, bauksit dikeruk habis. Pulau terkoyak. Laut rusak.

Rempang
7.572 hektar tanah leluhur untuk Eco-City. 16 kampung tua dipaksa pindah. Protes dibalas gas air mata.
Melayu jadi tamu di tanah sendiri.

Teluk Tering. Reklamasi ilegal. Disegel, dibuka lagi.
Banjir sepinggang. Warga sakit. Nelayan kehilangan laut.

Izin samar-samar. Seperti hantu. Tak terlihat, tapi dijalankan. Tahu-tahu pancang-pancang menantang.
Menikam laut, menyingkirkan rakyat.

Hotel Purajaya
Hotel bersejarah dan dianggap sebagai simbol marwah Melayu. Namnu, dirobohkan tanpa hukum yang jelas.
Marwah dikubur mafia.

Hutan Mangrove di Batam
Digunduli demi reklamasi dan tambang. Benteng alami hilang. Ekonomi rakyat kecil ikut mati. Otonomi Daerah yang Gagal.

“Inilah wajah otonomi di Kepri. Layu sebelum berkembang. Mati sebelum hidup. Pendapatan diangkut pusat. Tanah dikuasai mafia. Pemimpin daerah jadi stempel,” ucap Monica.

Monica menyebut, Batam lebih parah. Dimana, Wali kota sekaligus Kepala BP Batam mempunyai cerita untuk simplifikasi, yang jadinya super power tak terkendali.

“Pendulum otonomi berbalik arah. Bukan rakyat yang berdaulat. Tapi pusat dan mafia yang berkuasa. Di atas kertas walikota memimpin, tapi semua tahu ada kuasa lain di belakang. Seperti wayang di panggung. Boneka di depan, tapi dalang rentenir yang menggerakkan,” jelasnya.

Dan kementerian?
Kementerian Dikebirikan. Lingkungan hidup, kelautan, semua diam. Membisu ketika mangrove ditebang.
Menutup mata ketika laut ditimbun.

Penjajah di Negeri Sendiri
Ini bukan Belanda, ini bukan Portugis dan ini penjajahan gaya baru. Penjajahan dengan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengalahkan undang-undang. Penjajahan dengan tanda tangan pejabat, penjajahan dengan jargon investasi.

“Rakyat Melayu ditindas bukan oleh asing, tapi oleh bangsanya sendiri. Ketidakadilan yang menyakitkan. Dari Kepri lahir bahasa persatuan, tapi rakyatnya disengsarakan. Dari Kepri lahir kitab moral, tapi tanahnya dikuasai mafia. Dari Kepri lahir semangat melawan penjajah, tapi sekarang harus melawan pemerintahnya sendiri,” tegasnya.

Penutup
23 tahun Kepri berdiri, tapi cita-cita otonomi daerah gagal diwujudkan. Warisan dijunjung, tapi rakyatnya disengsarakan. Bahasanya dipakai bangsa, tapi tanahnya dirampas mafia.

Kini saatnya berubah. Rakyat Melayu tidak akan tinggal diam. Rakyat Melayu akan bangkit. Merebut hak. Merebut marwah. Merebut masa depan.

Penulis/Sumber : Monica Nathan
Editor : Red.