Dari 59.542 balita yang diukur, sambungnya, hanya 1.441 balita yang terindikasi stunting. Lalu Februari 2023, dari 2.42% kemudian turun lagi angka stunting di Kota Batam.
“Februari 2023 angka stunting di Kota Batam ada di 1.9,” sebutnya.
Beberapa langkah yang di ambil kota, ungkapnya, meliputi peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang, pemberian makanan bergizi pada balita, dan pembinaan serta pelatihan bagi kader Posyandu dan kader kelurahan siaga.
Selain itu, kerja sama yang erat antara tim pendamping keluarga, OPD terkait, puskesmas, TNI, dan BKKBN telah memperkuat upaya pencegahan stunting.
“Alhamdulillah batam sudah terkelola dengan baik. Kami punya 1.632 kader, 21 tim puskesmas, 128 kelurahan siaga, 501 kader posyandu, dan 24 perguruan tinggi yang fokus menangani stunting ini,” rinciannya.
Kata Amsakar, atas hal itu Kota Batam kembali meraih prestasi gemilang dalam penanganan stunting di Provinsi Kepulauan Riau dalam pelaksanaan penilaian kinerja stunting tahun 2022 terhadap pelaksanaan aksi 1 sampai dengan aksi 8 tahun 2022.
Dalam beberapa kesempatan Amsakar juga kerap menyampaikan pentingnya menyiapkan generasi tangguh. Terlebih nanti pada tahun 2030 atau 2035 Indonesia akan mengalami bonus demografi. Selain itu, juga dalam rangka menyambut Indonesia Emas 2045.
Kesehatan anak adalah aset berharga bagi masa depan bangsa. Dengan penanganan stunting yang efektif, kita dapat menghasilkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
“Mari kita terus bersatu dan berkomitmen untuk melindungi anak-anak khusunya di Kota Batam dari ancaman stunting,” pungkasnya.
(Red)

