Air Mata Seorang Ketua DPRD
Dalam kesempatan itu, Kamal berdiri di hadapan para santri. Suaranya bergetar saat mengingat perjalanan panjangnya bersama NasDem.
“Saya di sini bukan karena hebat. Saya sampai di titik ini (ketua DPRD Kota Batam, red) berkat doa orang-orang baik dan berkat kepercayaan dari Pak Surya Paloh Bang Pietra Paloh. Tanpa mereka, mungkin saya tidak duduk di posisi ini,” katanya lirih.
Kamal tak mampu menahan air mata. Tangisnya jatuh pelan, bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang membuncah.
“Kini, dengan amanah ini, saya bisa mengembangkan pondok Al Fadlu 7. Ini bukan pencapaian saya, ini anugerah. Dan saya hanya ingin memastikan pondok ini terus hidup, karena dari sinilah semua berawal,” ujarnya.
Para santri terdiam saat Kamal menyeka air matanya yang menetes tak terbendung.
Ucapan Haru dan Harapan dari Para Pemimpin
Anggota DPRD Provinsi Kepri, Tengku Afrizal Dahlan, juga menyampaikan sambutannya. Ia memandang perjalanan Partai NasDem sebagai sesuatu yang luar biasa.
“Partai ini masih muda, tapi sudah menorehkan capaian besar. Secara nasional kita masuk lima besar, dan di Kepri berada di posisi tiga besar. Ini pencapaian yang tidak kecil. Tapi yang terpenting, semua ini karena dukungan masyarakat. Terima kasih kepada seluruh kader dan simpatisan. Mari terus berjuang agar Partai NasDem semakin dicintai rakyat,” ujarnya penuh semangat.
Sementara itu, Pietra Machreza Paloh berbicara dengan nada personal. Saat santri mempersembahkan lagu “Beungong Jeumpa,” wajahnya terlihat menerawang seakan mengingat kenangan di masa lampau.
“Lagu itu membawa saya bernostalgia. Dulu, ibu saya sering menyanyikannya ketika saya kecil. Hari ini, mendengarnya kembali di pondok ini, sungguh membuat saya terharu,” ucap Pietra, suaranya pelan namun sarat makna.
Ia menatap para kader dengan lembut. “Saya ingin kita semua menjadikan momen ini untuk mempererat tali persaudaraan. Lupakan hal-hal kecil yang mungkin pernah terjadi. Fokuslah pada perjuangan besar kita. Ingat, Ketua Umum kita, Bapak Surya Paloh, telah mencurahkan segalanya untuk membesarkan partai ini. Mari kita kobarkan perjuangan itu dengan hati yang bersih dan niat yang tulus,” pesan dia.
Politik yang Menyatu dengan Doa
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan santunan berupa paket sembako kepada masyarakat sekitar pesantren. Wajah-wajah bahagia mengiringi sore yang perlahan menua.
Tak ada gegap gempita, tak ada kemewahan. Hanya doa, rasa syukur, dan semangat berbagi yang membumi.
Hari ini, Partai NasDem Kepri tidak hanya merayakan ulang tahun. Mereka sedang menyulam makna politik dengan kasih dan iman, menyadari bahwa perubahan sejati tidak selalu lahir di gedung parlemen, tetapi seringkali bermula dari sajadah, air mata, dan hati yang tulus di pondok pesantren./Red.

