Wamenkominfo mengungkapkan proyeksi ekonomi digital Indonesia pada 2024 akan menyumbang hingga 4,6 persen dari produk domestik bruto. Namun, nilai tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan negara-negara maju.
“Masih kecil kalau kita bandingkan dengan kontribusi ekonomi digital di sejumlah negara maju, semisal Amerika atau negara-negara Eropa dan juga China yang rata-rata sudah di atas 40 dan 50 persen lebih sumbangan ekonomi digitalnya kepada produk domestik bruto,” jelasnya.
Namun, Wamen Nezar Patria optimistis jika ekonomi digital nasional akan berkembang pesat. Menurutnya, penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
“Penerapan digital financial services di Indonesia seperti adopsi Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS turut berkontribusi pada perkembangan ekosistem ekonomi digital kita,” tegasnya.
Wamenkominfo Nezar Patria menambahkan berkat QRIS, Indonesia menjadi kekuatan utama pembayaran digital di Asia Tenggara dengan proyeksi pertumbuhan nilai pasarnya mencapai USD760 Miliar pada Tahun 2030./Red.

