Tepat pada tanggal 1 Agustus tak pernah terasa seistimewa ini bagi sosok seorang H. Amsakar Achmad.

Di usia yang ke-57, Wali Kota Batam sekaligus Ex Officio Kepala BP Batam itu kembali menyadari bahwa cinta dan kesetiaan bukan sekadar kata, melainkan napas panjang yang mengiringi setiap langkah pengabdian.

Hari itu, Kamis (01/08), sejak pagi hingga menjelang siang, Amsakar disambut berbagai kejutan dan ucapan selamat dari berbagai elemen masyarakat, tokoh-tokoh, pemerintahan, sahabat, dan kolega. Namun, tak ada yang lebih menyentuh dari kejutan di sore hari itu, saat cahaya senja pelan-pelan meluruh di langit Kota Batam.

Bertempat di Cincai Cafe, Batam Center, ratusan relawan dari seluruh penjuru kota berkumpul dalam diam. Mereka menata senyum, merangkai lagu, dan menyusun kejutan yang bukan hanya meriah, tetapi juga menyayat halus ruang-ruang perasaan.

Sebagian datang dengan membawa kue, sebagian lainnya hanya membawa doa. Namun semuanya membawa cinta.

Begitu Amsakar melangkah masuk ke ruangan, pintu dibuka pelan, dan lagu ulang tahun mengalun dari kerumunan. Spontan, suasana pun pecah dalam peluk haru dan tepuk tangan.

Para relawan menyerbu, menyalaminya, memeluk, menyapa, dan tentu, mengabadikan momen dengan kamera. Tapi hari itu, bukan lensa yang menangkap makna sesungguhnya, melainkan mata yang basah dan hati yang penuh.

Amsakar tampak terkejut. Namun lebih dari itu, ia tampak tersentuh. Tak ada pidato panjang atau ungkapan klise yang keluar darinya. Hanya sepenggal kalimat yang menggambarkan seluruh rasa.

“Saya sungguh terharu. Ini bukan sekadar kejutan. Ini pengingat bahwa saya tidak berjalan sendiri. Terima kasih telah setia, dari dulu hingga hari ini,” ucapnya lirih, seraya menyapu pandang ke wajah-wajah yang telah menemaninya dalam jalan panjang perjuangan.

Bagi Amsakar, para relawan bukan sekadar tim pemenangan yang hadir saat kontestasi. Mereka adalah saksi hidup dari langkah-langkah berat yang pernah ditempuh. Mereka adalah teman dalam sunyi, pendorong saat ragu, dan pelipur saat dihantam keraguan.