Guna mencapai tujuan kegiatan, Pusbanglin Bahasa dan Sastra merencanakan kegiatan yang berlandaskan semangat kolaborasi dan gotong royong serta menerapkan prinsip-prinsip keterlibatan multipihak (pentahelix), yaitu pemerintah khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) dan Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Kemendikbudristek; Pelaku; badan atau pelaku usaha/industri; masyarakat atau komunitas; dan media, untuk ikut serta dalam mengembangkan sastra di Indonesia.
Pengembangan sastra adalah upaya menggali, memperluas, dan menafsirkan karya sastra yang ada, atau bahkan menciptakan karya baru dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berikut adalah beberapa bentuk pengembangan sastra. Pertama, Adaptasi Karya Sastra ke Format Lain yaitu adaptasi sebuah novel atau cerita pendek klasik ke dalam bentuk skenario film, naskah drama, atau novel grafis. Hal ini dapat membawa karya sastra ke dalam format yang lebih mudah diakses oleh audiens yang berbeda.
Kedua, Pementasan Drama dengan mengangkat drama dari halaman ke panggung adalah cara yang bagus untuk memberikan pengalaman langsung kepada audiens. Pilih karya sastra yang menarik dan relevan, lalu mengadaptasinya ke dalam bentuk pementasan. Ketiga, Pameran Seni Bertema Sastra yakni pameran seni yang menggabungkan karya-karya seni visual dengan tema sastra. Ini bisa mencakup lukisan, patung, instalasi, atau media seni lain yang menggambarkan cerita, karakter, atau konsep dari karya sastra.
Keempat, Komunitas Baca dan Diskusi merupakan koordinasi kelompok baca yang membaca dan membahas karya sastra tertentu. Ini adalah cara yang baik untuk mendorong pemahaman yang lebih mendalam tentang teks dan menghubungkan orang yang memiliki minat serupa. Kelima, Lomba Menulis dengan tema atau aturan tertentu yang diilhami oleh sastra tertentu. Ini bisa mendorong penulis baru untuk mengeksplorasi tema dan gaya yang berbeda.
Keenam, Siniar atau Saluran YouTube Sastra merupakan konten audio atau video yang membahas secara mendalam tentang karya sastra, membahas gaya penulisan, tokoh-tokoh, atau tema-tema yang ada dalam karya tersebut. Ketujuh, Festival Sastra yakni mengorganisasi festival sastra di komunitas yang meliputi pembacaan karya, panel diskusi, pameran seni, dan pertunjukan. Festival semacam ini dapat mengumpulkan orang-orang dengan minat sastra dan merayakan keberagaman karya.
Kedelapan, Publikasi Sastra secara berani yaitu dengan membuat platform online untuk menerbitkan karya sastra baru, baik itu cerpen, puisi, esai, atau karya fiksi lainnya. Ini dapat menjadi wadah bagi penulis yang ingin berbagi karyanya dengan audiens yang lebih luas. Kesembilan, Kelas Kreatif Sastra yaitu membuat lokakarya sastra dengan berbagai topik, seperti penulisan kreatif, analisis sastra, atau sejarah sastra.
Kesepuluh, Edukasi Sastra di Sekolah yaitu bekerja sama dengan sekolah atau lembaga pendidikan untuk mengembangkan program edukasi sastra yang memperkenalkan karya-karya sastra kepada generasi muda. Kesebelas, Aplikasi atau Platform Sastra dengan membuat aplikasi atau platform dare yang menyediakan informasi tentang karya sastra, pengenalan penulis, dan membantu pengguna menemukan karya sastra baru yang sesuai dengan minat mereka.
Sumber: kemdikbud
(Red)

