Kisah-kisah serupa tersebar di sudut-sudut Batam. Ada yang berhasil mengubah strata kehidupan, ada pula yang kandas di tengah jalan. Di balik gemerlap kisah sukses, selalu ada air mata perantau yang tak tertulis. Batam, tanah janji sekaligus medan laga yang kejam.

Namun, pertumbuhan yang pesat itu juga melahirkan jurang. Kawan-kawan saya yang disebut sebagai warga tempatan dan pribumi yang sejak lama mendiami Batam sering merasa tercecer dalam arus pembangunan.

Ketika perantau datang membawa modal, jaringan, dan keberanian, mereka kerap hanya jadi penonton di tanah sendiri. Di pasar-pasar modern, di gedung-gedung pencakar langit, wajah mereka semakin jarang terlihat sebagai pemilik. Tapi saya masih meyakini bahwa tak kan melayu hilang di bumi.

Inilah dilema Batam: antara menjadi etalase kemajuan bangsa, atau luka diam-diam bagi anak tempatan. Pertumbuhan ekonomi tak selalu menjamin pemerataan, dan sejarah akan menagih jawab.

Namun, Batam tetaplah kanvas besar tempat manusia melukis nasibnya. Ada warna cerah, ada yang kelam, tapi semuanya lahir dari keberanian untuk memulai.

Sukajadi, Batam Kota
27 September 202

Ilham Mendrofa

Editor : Red.