“Kalau tidak bocor dan baut masih ada, lalu oli hilang ke mana? Ini yang seharusnya diperiksa dulu secara mendalam, bukan langsung menuduh pihak bengkel,” ujarnya.
Pihak bengkel telah menyarankan agar mobil ditarik untuk pemeriksaan menyeluruh menggunakan peralatan memadai. Usulan itu sempat disetujui Petrus, namun hingga Sabtu malam (03/01) mobil tidak kunjung dibawa.
Pada Senin (05/01/26), Petrus datang langsung ke Bengkel CG. Pada kesempatan tersebut, Wirajayadi menawarkan untuk bekerja sama menangani kendala dan menyampaikan pentingnya tidak menyimpulkan siapa yang salah sebelum investigasi menyeluruh.
“Usia mobil juga sudah lama, jadi perlu diperiksa secara komprehensif untuk mengetahui penyebab pasti,” katanya.
Kesepakatan berubah menjelang sore hari ketika Petrus meminta mekanik Bengkel CG datang ke rumahnya untuk pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan pada keesokan harinya (06/01/26), dan mobil masih dalam kondisi hidup meskipun suara mesinnya terdengar agak kasar.
Persoalan berujung buntu ketika Petrus menolak usulan pembagian biaya perbaikan dan meminta seluruh tanggung jawab dibebankan kepada Bengkel CG. Petrus juga menyatakan akan membawa mobil ke bengkel lain karena tidak lagi percaya pada layanan yang diberikan.
Wirajayadi menegaskan bahwa pihaknya siap bertanggung jawab jika terbukti mobil mengalami kerusakan segera setelah keluar dari bengkel. Namun jarak waktu mencapai sebelas hari menjadi faktor krusial yang tidak bisa diabaikan./Setiaman Zebua.

