Manhaj ini sangat berbahaya, karena punya ideologi yang kuat untuk menolong yang lemah, menggulingkan pemerintahan yang dhalim, korup dan suka bermewah-mewah. Karenanya dibenci dan difatwakan sesat oleh elit kapitalisme global, dianggap manhaj sesat karena berbahaya bagi kekuasaan dhalim.
Negara-negara aristocrat Arab yang despotic sangat takut dengan ideologi Islam semacam ini, Kalau ajaran mereka berkembang di seluruh Arab, bisa tumbang dalam semalam kekuasaan mereka. Karena itulah raja-jara Arab itu lebih berkoalisi, tunduk dan patuh dengan zionis, agar kekuasaan mereka langgeng. Beberapa raja Arab sudah disapu oleh gelombang Arab Spring, sisanya harus bersekutu dengan iblis, agar posisinya bertahan.
Karena itu pula, raja-raja Arab lebih mengembangkan sebuah ajaran Islam yang cenderung menjadi sholeh cukup dengan cara hafal Quran. Padahal, zaman Nabi penghafal Quran berada dibarisan jihad terdepan. Juga cara wudhuk dan sholat saja termasuk cara mengkafirkan, mensesatkan dan membidh’ahkan kelompok muslim lainnya yang dianggap berseberangan pendapat dengannya. Sebab, model keislaman ini akan mengamankan kekuasaan, para ulama dan ustad ditugaskan untuk mencari kesalahan masyarakat bukan mencari salah rajanya.
Jika hari ini terkesan gerakan Islam dibungkam, Masjid dan mushalla diawasi dengan ketat, gerakannya dibatasi, masjid dan mushalla dijadikan hanya sebatas tempat ritual, berbicara tentang syuga dan neraka atau pahala dan dosa, sedang jinayah (politik) dilarang membicarakannya sehingga menyebabkan pemikiran masyarakat saat ini adalah jika ada Ustad membicarakan politik dimasjid maupun dimushalla maka itu dianggap hal yang tabu oleh sebagian masyarakat.
Model manhaj ini juga didukung Barat sebab, mereka ingin merampok seluruh tanah dan sumberdaya alam di negara-negara Islam. Karena itu rakyatnya harus difakihkan, harus dihafalkan ayat dan Hadits, harus dialimkan tentang cara-cara mengkafirkan dan mensesatkan saudaranya sendiri. Jangan sampai rakyat kritis, hafal dan tau Hadits-Hadits untuk melawan pemimpin yang korup, bisa bahaya itu, bisa dirampas, bisa terbakar semua aset dan rumah-rumah mewah para pejabat.
Karena tidak cukup kuat dengan ideologi “perlawanan”, kita mulai mengembangkan ideologi “menjilat”. Yang penting dapat posisi dan jabatan, bisa cair proposal. Bisa dapat bantuan. Iya, kita wajib mendukung pemerintah dan pejabat yang berlaku baik dan adil. Tapi bagaimana jika angka kemiskinan rakyat masih tinggi. Sementara gaya hidup mewah, kecongkakan dan perilaku koruptif mereka tidak sembuh-sembuh? Haruskah rakyat “me-Nepal-kan” mereka semua?
Siapapun presiden Indonesia yang dipilih secara sah oleh rakyat, maka hendaknya memperbaiki Indonesia yang kita cintai ini, jika anda benar-benar komitmen memperbaikinya, In Syaa Allah akan masuk surga. Jika ini yang sedang terjadi Indonesia saat ini maka kami selalu bersama Anda! (Wallahu A’lam Bishawab)
Penulis : Amirul Khalish Manik, aktivis pemuda sosial dan dakwah
Editor : Red.

