Manhaj Sunni itu lebih lunak pada pemimpin atau pejabat (penguasa) karena memang fikih kita konsepnya semacam mencari jalan aman kepada pejabat (penguasa) yang dhalim. Hadits-hadits yang boleh berkembang dan dicatat dalam buku hadits hanyalah hadits-Hadits untuk mengatur, mengontrol, mengevaluasi dan menghukum masyarakat termasuk mengurusi perempuan. Bukan untuk mengevaluasi dan menghakimi pemimpin, kalau pun ada itu sangat minim sekali dan tidak begitu krusial.
Jika ada ahli Hadits yang berani mengumpulkan Hadits-Hadits yang mengkritisi kehidupan pejabat (penguasa), pasti sejak dulu sudah dihukum, bahkan dibunuh dan difitnah oleh mereka yang menyebut dirinya penguasa Islam. Karena itu, coba baca kitab-kitab Hadits yang tersebar hari ini, Isinya hanya bab cara mengatur ibadah sehari-hari dan cara menghukum perilaku masyarakat. Hadits-Hadits semacam ini sangat menguntungkan penguasa dalam mengontrol perilaku massa, karenanya pengajian kita sehari-hari pun seputaran fikih ibadah ini dan dikontrol sedemikian ketat dan rapi.
Padahal, Nabi itu hampir sepanjang hidupnya berjihad melawan musuh, melawan kekuasaan yang despotis, melawan kelompok dan para pemimpin dhalim dari suku dan saudaranya sendiri. Nabi Berperang, menghukum dan menyita harta mereka, anehnya, hadits-hadits jihad, perlawanan dan penegakan amar makruf yang tegas tersebut hampir tidak pernah muncul dalam kitab dan khutbah, apalagi di baliho-baliho dipinggir jalan.
Padahal, berapa banyak Nabi berkhutbah Jumat selama hidupnya, katakan setahun saja, dimana setiap bulan ada 4 kali Jumat. Berarti dalam setahun Nabi melakukan 48 kali khutbah, Itu hanya setahun. Mana catatan detil khutbah-khutbah Nabi, yang notabenenya didengar oleh puluhan, ratusan atau mungkin ribuan orang.
Tidak ada! Padahal khutbah Jumat itu paling sakral karena berisi pesan jihad, adil dan ihsan, Isinya pasti sangat tajam. Sasarannya sudah pasti pemegang kekuasaan, tidak ada kitab Hadits tentang itu sebab tidak boleh dicatat dan tidak boleh dikompilasi menjadi kitab, Harus dihilangkan.
Karena itu pula, manhaj kita sangat “impoten” saat melihat zionis menghabisi rakyat Palestina. Sebab kita tidak punya cukup Hadits untuk menentang pemimpin kita yang pro zionis. Kita hanya punya Hadits untuk mendukung pemimpin yang dhalim. Hadits-Hadits dalam manhaj kita hanya seputaran haramnya memberontak terhadap pemerintah, walau dhalim. Doktrinnya:”Pemimpin Islam walau dhalim, itu lebih baik daripada tidak ada pemimpin atau anggapannya lebih pemimpin Islam yang dhalim daripada dipimpin oleh non Islam.” Ya semacam itu Haditsnya yang pro penguasa dhalim.
Tapi, kalau ada kelompok masyarakat lain yang berbeda dengan nya maka dianggap sesat, itu cepat diproses dan banyak Haditsnya yang membelanya. Sebab Hadits-Hadits yang banyak ya seputaran cara berkonflik dengan sesama. Ada kelompok yang berupaya untuk melemahkan kesatuan islam maka perlu memperbanyak untuk mengajarkan dengan hal-hal sifat berbau khilafiah. Dengan terjadinya pecah belah tersebutlah dapat menguatkan posisi kekuasaan dan posisi pemerintahan dhalim tetap kuat, bukan cara menurunkan pemerintahan yang dhalim.
Berbeda dengan manhaj Islam tetangga kita, mereka punya banyak Hadits tentang jihad, menegakkan keadilan dan ihsan. Bahkan jihad menjadi salah satu rukun aqidah keislaman mereka, di kita itu tidak boleh karena dianggap berbahaya dan dicap sebagai kelompok radikal. Salah-salah, pemerintah jadi sasarannya. Contohnya pada Tahun 1979; Shah Reza Pahlevi, Inggris dan Amerika turut menjadi rombongan korban dari ideologi ini.
Karenanya; Iran, Hizbullah, Yaman, dan kelompok-kelompok muqawama se-ideologi lainnya; itu sangat aktif dan berani melawan zionis. Selain punya Quran dan Hadits; mereka punya kitab namanya “Nahjul Balaghah”. Isinya khutbah dan surat-surat Imam Ali bin Abi Thalib. Hampir semuanya tentang Syarah Hadits Nabi dan peringatan sang Imam untuk para pemimpin agar tidak berbuat dhalim.

