Kemajuan terus berlanjut pada 2023, dengan penurunan drastis hingga 2,35 persen (e-PPGBM), menyisakan 1.229 anak terindikasi stunting. Pada 2024, prevalensi kembali turun menjadi 1,23 persen.
Amsakar menilai keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras bersama, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
“Rakor ini adalah momentum untuk memperkuat komitmen dan kolaborasi lintas sektor. Bersama kita bisa wujudkan generasi Batam yang sehat dan bebas stunting,” tegasnya.
Amsakar menyampaikan, meskipun tren penurunan stunting terus membaik, upaya belum selesai. Ia menekankan pentingnya memberikan intervensi terbaik guna menangani stunting.
“Edukasi dan pendampingan kepada keluarga harus terus dilakukan, dimulai sejak perencanaan pernikahan hingga 1.000 hari pertama kehidupan,” katanya.
Amsakar optimis Batam dapat menjadi kota percontohan nasional dalam upaya penanganan stunting. Ia yakin, dengan kolaborasi semua pihak, target prevalensi stunting di bawah 10,8% pada 2024 dapat tercapai.
“Bersama, kita mampu mencetak generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” tutupnya./Red.

