Amsakar juga menyinggung bahwa banyak tokoh nasional dan pemimpin publik lahir dari pesantren. Kini, bahkan tidak sedikit santri berkiprah di level internasional membawa nama baik Indonesia.

Tema Hari Santri 2025, lanjutnya, menjadi ajakan agar santri hadir sebagai pelaku perubahan di era global. Santri masa kini tidak cukup hanya menguasai kitab kuning, tapi juga harus adaptif terhadap teknologi, sains, dan bahasa dunia.

“Dunia digital harus menjadi ladang dakwah baru bagi para santri,” tegasnya.

Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap pesantren. Sejak disahkannya UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan Perpres Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Pesantren, negara memberikan pengakuan dan dukungan yang lebih kuat bagi lembaga pendidikan khas Indonesia tersebut.

Selain itu, pesantren juga terlibat dalam program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Kedua program ini menjadi sejarah baru bagi santri. Asupan gizi dan kesehatan yang baik adalah investasi masa depan bangsa,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Amsakar membacakan pesan Menteri Agama agar seluruh santri di Indonesia terus berilmu, berakhlak, dan berdaya.

“Rawatlah tradisi pesantren, tapi juga peluklah inovasi zaman. Tunjukkan bahwa santri mampu menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton,” serunya.

Ia menegaskan, masa depan Indonesia akan banyak ditulis oleh tangan-tangan santri.

“Barang siapa menanam ilmu, maka ia menanam masa depan. Mari terus berjuang mengawal Indonesia menuju peradaban dunia yang damai dan berkeadaban,” tutupnya.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan kepada para tokoh dan penggiat yang peduli terhadap pengembangan pesantren./Red.