Sahabat, begitu banyak orang yang jatuh dalam kegagalan dan tak sanggup bangkit kembali.
Mereka memvonis diri mereka sendiri, atau menyalahkan keadaan dan orang lain, Bahkan tak jarang yg mulai menyalahkan Tuhan.
Terpuruk dan tak bisa bangkit lagi. Mereka mengurung diri secara fisik dan psikologis dari setiap kesempatan lain yang datang untuk mengulangi atau mencoba sesuatu hal baru untuk kesuksesan mereka.
Sahabatku,
Belajarlah dari seorang bayi.
Perhatikanlah bayi yang baru belajar jalan.
Saat kita membantunya untuk pertama kali berdiri.
Dia bahkan tidak sanggup melakukannya.
Kaki-kakinya yg mungil itu belum terbiasa menopang bobot tubuhnya.
Berkali-kali, lagi dan lagi kita membantunya berdiri.
Dia jatuh lagi. Tapi apa yg terjadi? dia tetap bangkit lagi dan lagi.
Bayi ini akhirnya dapat berdiri sendiri tanpa bantuan kita lagi.
ketangguhan adalah bakat alami setiap bayi!
Kemudian kita membantunya berjalan.
Dia jatuh, tak kuat melangkah.
Pertama-tama dia menangis. Lalu diam dan berdiri lagi.
Dan berjalan lagi.
Apakah dia menyerah dgn setiap kegagalannya?
Sahabatku,
Bayangkan kalau bayi-bayi di dunia ini mudah menyerah!
Pastinya dunia ini tidak ada manusia yang dapat berjalan.
Sadarilah,
Setiap kita sesungguhnya memiliki bakat ketangguhan.
Itu alamiah! Itu anugerah dari Tuhan
Sudah ada pada diri setiap manusia sejak lahir
Seorang bayi tidak perlu motivator sekelas Mario Teguh memotivasinya untuk dapat berdiri sendiri kemudian berjalan.
Mereka tidak pernah patah semangat lalu menyerah dan menyalahkan nasib.
Belajarlah dari seorang bayi.
Hidup itu bukan ditentukan oleh kenapa atau bagaimana seseorang bisa terjatuh, tapi hidup itu ditentukan seberapa kuat seseorang bangkit kembali saat dia terjatuh!!
Tujuh kali orang benar jatuh, pasti ia bangkit kembali! (Baca Ams 24:16)
Dalam Amsal 24:10 (TB) disebutkan ‘Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu’.
Sumber : Pdt. Iskandar Dachi
Edidor : Red

