“Meski nantinya harus merangkak sekalipun, seorang Amsakar akan berupaya dengan sekuat tenaga untuk dapat berpartisipasi dalam Pilwako Batam 2024. Ada kewajiban untuk menjaga rumah besar ini,” ucap Amsakar di suatu kesempatan.

Dua tahun lebih lamanya, Amsakar bergerak dengan sumber daya apa adanya. Keistimewaannya sebagai orang nomor dua di kota ini pun seakan tiada guna. “Anak buah” yang seharusnya ia miliki pun tak mau untuk bersua dengannya. Miris dan ironis, Amsakar dianggap bukan siapa-siapa di rumah yang telah ia tempati lebih dari 26 tahun.

Kendati demikian, ia tak mengambil hati. Amsakar berbesar hati untuk memaklumi. Ia mencoba berdamai dengan keadaan. Amsakar meyakini semua ini semata adalah takdir Tuhan.

Tekad Amsakar cuma satu, yakni mewujudkan Batam sebagai rumah untuk semua. Ia mulai membangun komunikasi politik. Satu persatu ia temui, satu persatu ia ajak berdiskusi. Perlahan Amsakar menemukan jalannya. Jalan itu pulalah, yang hari ini merubah keadaan dan serasa palu godam bagi orang-orang yang meremehkan dan merendahkan Amsakar.

Amsakar meyakini dengan sepenuh hati, untuk merubah siang dan malam adalah hal kecil bagi yang Maha Kuasa, apalagi cuma hal seperti ini.

Amsakar percaya, kemudahan langkahnya hari ini, ada doa yang melangit dari istri dan anaknya di sepertiga malam, ada keluarga dan kerabat serta relawan yang tak terhingga jumlahnya, yang terus mensupport dan bekerja bersama tanpa menghiraukan resiko di hadapannya, Munajat dari merekalah yang membuat Amsakar kuat dan membuat semangat semakin berlipat lipat, pada akhirnya kami meyakini Jika Allah SWT berkehendak tak ada satu kekuatanpun yang bisa menolak./Red.