Nek Awe : Kalau mereka memaksa masuk ke kampung ini, kami tetap melawan.
Sampai kapan melawan?
Nek Awe: Sampai kapan pun, kami tak akan diam demi Rempang.
Apa pesan anda ke masyarakat?
Nek Awe : Masyarakat kami sekarang ini tetap bersatu. Memang orang kampung akan tetap bersatu. Kami tambah lagi kampung, banyak lagi kampung kami tambah lagi. Kami tetap berjuang seluruh kampung. Sebab dia (BP Batam) bilang kampung kami ini banyak hutan lindung. Jadi, di Sungai Raya itu tetap berjuang. Dia bilang hutan lindung. Jadi menurut kami, kalau orang itu telah tinggal lama (puluhan bahkan ratusan tahun) itu, kami bilang tidak ada kampung hutan lindung. Sebab ada keturunan, lima keturunan lebih mereka (penduduk kampung). Tapi nanti masih pemerintah tetap bersikukuh akan mengambil juga daerah kami. Kami tetap berjuang, bertahan. Mempertahankan kampung kami sampai kapan pun.
Apa pesan anda(Nek Awe) untuk pejabat-pejabat yang ada sekarang?
Nek Awe : Yang pejabat ada sekarang ini; kami minta keadilan yang seadil-adilnya. Jangan berpihak kepada proyek yang tak berlaku adil. Pemerintah harus memperlakukan warga seadil-adilnya. Karena proyek ini tidak adil. Bagi kami proyek itu bukan untuk kebaikan kami. Sebab kami banyak dirusak oleh orang itu (karyawan perusahaan pemegang proyek REC). Sering kali kami diintimidasi. di Monggak juga, tidak ada keadilan. Juga di Sembulang Hulu juga kami tidak ada keadilan. Ujung-ujung nenek juga dia bilang tersangka. Jadi di mana keadilan? Sampai sekarang ini juga kami masih diintimidasi, masih ada pemaksaan. Jadi, kami tetap melawan, walaupun nanti apa saja yang terjadi, kami tetap berjuang, kami tak akan diam.
Tetap melawan?
Nek Awe: Tetap melawan! (sampai 3 kali ditanya dengan jawaban yang sama).
Sampai kapan pun?
Nek Awe : Apapun masalah tetap kami hadapi, dan tetap berjuang.
Penulis : Redaksi

