Kehadiran proyek Rempang Eco City (REC) di Pulau Rempang, hingga sekarang masih membawa nestapa berupa intimidasi bagi warga setempat.
Data resmi di Badan Pengusahaan (BP) Batam menyebut 700 KK telah bersedia direlokasi dari hampir 1.000 KK di Rempang, tetapi warga menyebut jumlah penduduk yang bersedia tidak lebih dari 140 KK.
“Kami selalu terintimidasi oleh para pekerja proyek Rempang Eco City, tolong segera proyek ini dihentikan. Walaupun ditekan, perlu kami tegaskan bahwa kami tetap akan melawan,” kata Siti Hawa alias Nek Awe, Rabu (04/06).
Semula, kata Nek Awe, disebut Rempang Eco City (REC) tidak ada lagi di Rempang.
Kenyataannya di sini, proyek itu tidak ada juga.
“Tapi masih tetap diberitahu ke kami masih ada Rempang Eco City tetap ada. Dan intimidasi tetap terjadi,” ucap Nek Awe.
Seorang sumber di Sembulang yang tidak ingin diungkapkan namanya itu menyebut catatan warga, jumlah yang telah bersedia dipindahkan ke rumah yang dibangun di Tanjung Banon tidak lebih dari 140 KK.
“Itu pun, mereka bersedia dipindah dan mendapatkan rumah di Tanjung Banon, karena mereka pegawai di pemerintahan. Selain pegawai, ada banyak KK pendatang baru. Mereka mengurus KTP dengan cara cepat di kelurahan, dan mereka dimasukkan ke dalam daftar warga yang bersedia direlokasi,” katanya.
Sementara data di BP Batam menyebut warga yang telah bersedia direlokasi telah mencapai 700 KK dari sekitar 967 KK warga terdampak proyek Rempang Eco City di Pulau Rempang. Warga meminta BP Batam memaparkan secara terbuka data BP Batam agar dievaluasi bersama antara BP Batam dan warga setempat.
“Mereka (BP Batam) tidak pernah bersedia memberi data yang kami minta,” kata warga tersebut kepada wartawan.
Terdapat 16 (Enam belas) kampung di Rempang bakal tergusur akibat proyek REC. kampug itu adalah: Tanjung Kertang, Rempang Cate, Tebing Tinggi, Blongkeng, Monggak, Pasir Panjang, Pantai Melayu, Tanjung Kelingking, Sembulang, (Pasir Panjang, Sembulang Hulu) Dapur Enam, Tanjung Banun, Sungai Raya, Sijantung, Air Lingka, Kampung Baru, Tanjung Pengapit.
Berikut wawancara secara eklusif dengan tokoh Rempang, Siti Hawa alias Nek Awe.
Bagaimana perkembangannya warga kampung di Sembulang, Barelang?
Nek Awe : Kami, pada perkembangan terakhir, lagi-lagi, kami masih diintimidasi. Tetapi, meski ada intimidasi, dan proyek ini tetap dijalankan juga, sesuai kata pemerintah kami tetap akan mewalan. Padahal Rempang Eco City (REC) itu tidak ada lagi di Rempang. Kenyataannya di sini, proyek itu tidak ada juga. Tapi masih tetap diberitahu ke kami masih ada Rempang Eco City, Contohnya, seperti pengalaman Sdr Sinaga (warga Tanjung Banon, lokasi pembangunan rumah relokasi Sembuang) dulu ‘kan. Orangnya digusur paksa, sedang orang itu pergi mancing. Tau-tau kembali ke rumahnya balik pohon kelapa miliknya punya 200 batang habis ditebang. Itu ‘kan masih masalah ya. Jadi, kami tetap melawan proyek ini sampai kapan-kapan pun. Tetap kami tetap melawan proyek ini.
Kalau mereka mau memaksa masuk?

