Salah satu anggota Komisi VI DPR RI yang hadir dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi VI bersama PT Dani Tasha Lestari (DTL) dan U Safe Law Firm adalah putra dari Walikota Batam Ex Officio Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, yakni Randi Zulmariadi dari Fraksi Partai NasDem.
Kehadiran Randi dalam RDPU yang di gelar di Ruang Rapat Komisi VI, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (04/02) itu menjadi sorotan rombongan PT DTL dan Tokoh Melayu dari Batam dan Kepri.
Menurut para pihak PT. DTL, kehadiran putra Muhammad Rudi itu dapat menghambat keterbukaan dalam dialog antara PT DTL sebagai pelapor dengan Anggota Komisi VI DPR RI sebagai penerima laporan. Terlihat Randi hadir setelah rapat berlangsung, serta meninggalkan ruangan sebelum peserta RDPU bubar.
Dalam RDPU itu, Ketua Komisi VI DPR RI, Dr Hj Anggia Erma Rini, MKM, menyebutkan persoalan lahan di Batam, khususnya pencabutan lahan yang berujung perobohan hotel Purajaya dapat mengganggu kondusifitas iklim usaha di Batam. Bahkan, Anggota Komisi VI DPR RI lainnya menyebutkan ada sebuah rekayasa dalam kasus penarikan lahan serta perobohan hotel milik PT Dani Tasha Lestari (DTL) itu.
”Kami telah menerima beberapa laporan, dan salah satu di antaranya adalah kasus lahan yang dialami oleh perusahaan Hotel Purajaya. Masalah ini harus segera diselesaikan, karena akan mengganggu kondusifitas investasi dan perekonomian di Batam,” kata Anggia Erma Rini.
Perobohan hotel Purajaya, kata Anggia, menjadi atensi karena laporan yang diterima Komisi VI menjelaskan persoalan yang serius dan jarang terjadi dalam dunia usaha, khususnya di Pulau Batam. Dalam RDPU yang langsung dipimpin oleh Ketua Komisi VI itu, hadir sekitar 30-ang Anggota Komisi menghadapi rombongan PT DTL, Pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau, serta kuasa hukum dari U Safe Law Firm.
Menurut salah satu anggota Komisi VI, Nasril Bahar SE (Fraksi Partai PAN), kasus yang dialami oleh PT DTL atas penarikan lahan dan perobohan hotel, diyakini sebuah rekayasa untuk menyingkirkan pemiliknya. PT DTL, pemilik dan pengelola hotel merupakan satu-satunya pengusaha sukses dari putra tempatan Melayu yang berhasil membangun dan mengelola hotel berbintang 5 dengan investasi mencapai Rp922 miliar.

