Pemerintah Kota Batam berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi persoalan pengelolaan sampah. Salah satu dampak dari buruknya tata kelola sampah adalah bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah. Diperlukan upaya strategis agar persoalan sampah ini dapat segera terselesaikan.

Berdasarkan pantauan di lapangan sampah yang diangkut ke TPA Telaga Punggur mencapai 100-1000 ton perharinya. Hal ini jika terus berkelanjutan maka akan menjadi Gunung Es yang di kemudian hari bisa saja mencair dan dampaknya sangat buruk pada lingkungan sekitar.

Koordinator FAHMI (Forum Alumni HMI Muda) Kepri, Supriyadi mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh pemerintah dengan penambahan armada perang serta tenaga kerja sopir dan kernet pengangkutan sampah, untuk mengentaskan sampah dikota Batam upaya yang dilakukan ini masih berproses di hilir sehingga kita harus memikirkan hulunya.

Kita ketahui bahwa pada Tahun 2025 Pemerintah Kota Batam telah mengalokasikan tambahan anggaran untuk mengatasi masalah sampah. Anggaran ini mencakup penambahan armada pengangkutan sampah seperti arm roll truck, peningkatan program edukasi kepada masyarakat, dan peningkatan kualitas layanan kebersihan. Selain itu, DPRD Batam juga mendukung usulan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk penambahan armada pengangkut sampah dalam APBD 2025.

DR. Suyono Saputro dalam sesi diskusi yang digelar oleh FAHMI Kepri, pada Sabtu (17/05), mendorong agar pengelolaan sampah dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat.

“Akan tetapi, pengelolaan sampah masih sebatas dipandang sebagai barang yang tidak berguna serta dilihat dari pendekatan akhir (end-of-pipe),” kata dia.